Archive for Agustus, 2008

Koketsu Ni Irazumba Koji O Esu

“Keluar Jawa mau?”

“Mau Opa, tapi nggak mungkin ninggalin ini ni sendirian.” (sambil menunjuk ke arah ibu).

“Iya Kung. Anak harapan masa’ ninggalin ibunya?” Ibu yang selalu merasa bahwa Rhe harus menjadi ayah keluarga tidak bisa rela melepas begitu saja.

“Ada waktu satu taon untuk memikirkanya sekalian nunggu kuliahmu selesai. Kalo kamu mau, taon depan opa kirim kamu ke Kalimantan. Yen pengen anakmu golek pangan, yo col na.” (Kalo ingin anakmu cari makan, lepaskanlah.)

Ibu akhirnya menyerah. Pikiran utama, tugas utama Rhe mencari uang (memangnya uang ilang dimana sih harus dicari?). Kalo Rhe pergi demi alasan uang…. Ya, lepaskan. Duh, kesannya ibu jadi mata duitan ya? Salah ayah ni, pergi saat anak-anak belum pada taraf mapan, masih sekolah bahkan. Ibu yang awalnya sebagai ibu rumah tangga dipaksa berpikir tentang menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak menjadi tampak begitu perhitungan dan materialistis dalam semua hal.

Piye, mau nggak kamu? Berani ke Kalimantan?”

“Pedalaman nggak Opa?”

“Nggak mungkinkan opa ngirim kamu ke pedalaman? Anak kecil kaya’ kamu yang jadi sarjana aja belum pantes, lebih pantes jadi anak SMA masa’ mo dikirim ke rimba. Setega apa opa sampai kaya’ gitu, dimarahin ayahmu ntar. Samarinda atau Banjarmasin, mo yang mana?”

Samarinda… Tiba-tiba terlintas bayangan gorengan isi kelapa muda, kue samarinda. Wah ke Kalimantan, nyeberang laut liat lumba-lumba. Banyak sungainya, bisa mancing. Ayah yang paling seneng tu kalo disuruh mancing, hobi. Kue, laut dan ikan, tampaknya menyenangkan.

“Masih ada satu taon untuk berpikir. Pilih bener-bener. Harapannya ada peluang lain di Jawa taon depan. Tapi untuk saat ini yang ada baru di Kalimantan. Pikirkan saja dulu, siapa tau Tuhan punya rencana lain taon depan.”

Andai tak ada rencana Tuhan yang lain pun Rhe tetep pengen dan mau pergi ke sana. Asing memang, berbahaya mungkin, petualangan baru jelas. Walo lagi-lagi bentrok dengan ijin ibu tapi setidaknya satu restu sudah dikantong, restu opa yang akan melancarkan kepergian Rhe. Tuntutan dan idealisme berjalan berdampingan, duh senangnya. Samarinda… Bahaya, Rhe datang untuk keinginan. Satu taon lagi.-***-

09 Agst 2008

Onta Jadi Sarjana

Apa bedanya onta dengan unta? Kalo unta punuknya di punggung kalo onta punuknya di leher. Itulah alasan Andrian ‘Coco’ Erwinto mendapat panggilan onta di antara kebun bunatang community (katanya punuk adalah modal awal jadi vokalis band). Onta yang merasa menjadi farmasis adalah kecelakaan dari kegagalan menjadi koki. Onta yang sering minder dengan kemampuan akademis, akhirnya dapat menyandang gelar sarjana di tahun keempat kuliahnya (pemilihan tanggal ujian yang bagus, 080808). Prestasi untuk taraf Onta.

Kebodohan bermula dari NIM yang berurutan. Praktikum farmakologi. Onta-Budi tampak sebagai 2 pria sadis di antara 3 cewe’ penyayang binatang. Secara kedua cowo’ itulah yang selalu dikorbankan untuk melakukan pembunuahn, mutilasi, pembedahan atau penyiksaan-penyiksaan sadis lainnya kepada hewan uji. Ketangguhan kami juga semakin diuji dengan jamu. Salah satu produk jamu jantung dari produsen jamu di Jogja yang sangat susah dianalisis memaksa kami sering nge-lab di luar jam (sampe pake system shif) untuk menemukan fase gerak. Bahkan catatan-catatan aneh sempat tertinggal.

Aku, dia dan mereka

Mencari ujung katulistiwa

Kujawab dengan lantang

TIDAK!!!

Itu beberapa cuplikan tulisan mengisi kejenuhan menunggu elusi. Kata yang juga menyadarkan Rhe dari pingsan karena kelelahan nge-lab seharian.

Ketangguhan kami berikutnya, menyantap makan sore di rumah Wewe’. Lagi-lagi kerja di luar jam hanya untuk membahas jamu, obat tradisional, untuk obat diare bahkan. Kelelahan dan butuh asupan tenaga membuat kami merasa siap melahap semua yang ada di depan mata. Sayang, hampir di akhir santapan, Rhe mengetahui bahwa abon yang kami makan telah dicampur dengan obat jantung (ops!!!). Onta ma Wewe’ yang memiliki kecepatan makan kilat telah menyelesaikan santapan dan tertawa cekakakan. Sedangkan Rhe + Ela yang masih berjuang dengan isi di piringnya mati-matian menahan tawa serta makanan di mulut agar tidak memuntahkannya (memangnya kami sakit jantung sampe harus makan obat jantung?).

Masa-masa yang buat kangen. Selamat buat Onta. Satu anggota tuntas lagi setelah Budi, Wewe’, Rhe dan Ela. Bee nguing-nguing say to badak, beruang, bandeng ma onta, Jatung kita masih berdetak walao tanpa jamu. -***-

08 Agst 2008

Arak Tak Membantu

Aku ngantuk dan kepalaku berat

Tapi aku nggak bisa tidur

Mungkin aku tampak tertidur

Tapi sebenarnya bukan

Ketika terbangun lelah badanku belum juga hilang

Itu tanda aku tak tidur

Tidak istirahat

Aku kehilangan hati

Hati yang punya alasannya sendiri yang tidak diketahui oleh alasan

Aku tak lagi punya rasa

Aku tak tau ekspresi apa yang harus kupasang hari ini

Aku hampa

Mungkin itu satu-satunya yang kurasa

AYAH, aku butuh ayah

Tapi tangis tak bisa lagi keluar dari diri

Ayah, batu bernyawa ini mencari rasa

Hati, yang bisa berkata.

-***-

070808

Kemanakah Minyak Tanah?

Lengo mambu atau minyak bau atau lebih nasionalisnya minyal tanah. Minyak yang berasal dari tanah… Apapun itu, fungsi utamanya sebagai bahan bakar rumah tangga. Entah mengapa akhir-akhir ini menjadi incaran golongan bawah.

Antri berjam-jam hanya untuk mendapat 4 liter minyak (beli lho, bukan pembagian gratis). Pedagang eceran pun nggak dapat jatah untuk membeli partai besar, juga harus ikut ngantri. Kabarnya karena sekarang jatah untuk tiap agen dikurangi, jadwal pasokkan pun dari seminggu sekali jadi 3 minggu sekali. Padahal minyak tanah kan turunan bensin. Jika jumlah bensin di pasaran tidak berkurang, mengapa tiba-tiba minyak tanah langka di pasaran? Memangnya kemana perginya, ditimbun, untuk apa?

Saatnya mengganti minyak tanah ke gas. Tapi banyak warga takut menggunakan gas setelah sekian banyak kecelakaan yang diberitakan berkaitan dengan penggunaan kompor-tabung pemerintah. Nggak aman. Beli isi tabung pun nggak bisa ngecer. Kalo biasanya pendapatan harian 10.000 buat beli minyak 3.000, wajar. Sedangkan harga tabung 3 kilo 15.000. Apakah setiap mo beli tabung terpaksa nggak makan sehari?

Yah… Itulah minyak tanah. Warga, LSM, mahasiswa sibuk mengurus demo penurunan harga BBM. Kenapa? Bukankah bahan bakar nggak harus minyak? Ada biogas, biodisel, minyak jarak juga dalam pengembangan. Ada pilihan untuk mensubstitusi minyak tanah seperti arang atau kayu.

Mengapa harga minyak tanah terus diributkan? Sementara meributkan harga minyak, harga beras terus melonjak. Beras impor menggusur petani lokal. Sekarang bagaimana? Kalo minyak bisa disubstitusi, apakah beras juga? Mo makan apa, nasi aking, ketela, atau jagung? Dapet gizi dari mana, tenaga dari mana? Pantas bangsa kita dinilai sebagai bangsa yang malas. Orang setiap hari mengkonsumsi karbohidrat tanda gizi, kenyang trus ngantuk. Ya malas.

Jadi jangan terlalu meributkan harga dan kelangkaan minyak (tapi ributkanlah harga beras, lho…???). Namun mari kita usahakan cara-cara baru untuk mensubstitusi minyak dengan sesuatu yang lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Pada dasarnya Rhe setuju dengan kenaikan harga minyak, biar minyak bumi di dunia nggak terus-terusan dieksploitasi habis. Trus nanti generasi di bawah kita tak mampu lagi menikmatinya. Lagian dengan naiknya harga dan kelangkaan minyak, membuat orang-orang terdesak. Biasanya dalam keadaan terdesak manusia menjadi lebih kritis dan peka (dalam harapan yang positif). Dengan demikian mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam melakukan penemuan-penemuan baru guna mengganti minyak atau sekedar melakukan penghematan terhadapnya. Kan kita nggak harus lagi tergangtung pada BBM.-***-

06 Agst 2008

Biaya ’Map’

Pertama kali masuk Balai Kota. Sok anak kota, 22 taon tinggal di Jogja tapi belon pernah menginjakkan kaki menikmati pelayanan balai kota (berkat ayah nich, ngurus akte kematian, makasih Yah!). Bahkan mo masuk aja salah pintu. Wah, dulunya Rhe kira balai kota hanyalah lapangan tempat upacara 17an, ternyata banyak fungsinya. Rame banget, tentang surat menyurat. Dan kalo ngomongin surat menyurat, kegiatan ini yang peling sering dibumbui suap menyuap, pungli, alisan ’sogokan’.

Ada sekitar 20 meja pelayanan mulai dari pembuatan akte, pajak, sampai perijinan tanah. Katanya pelayanan tanpa biaya, bahkan kolom biaya pun dicoret, tapi kq petugas minta uang ’map’ 2.000? Itu baru untuk ngurus akte kematian (orang mati aja masih ditipu), belum akte kelahiran, surat keterangan sampei urusan-uruasan seperti perijinan tinggal, tanah dan ijin lain. Mungkin nggak cuma uang map tapi memang bener-bener amplop yang disodorkan untuk petugas.

Andai dianggap biaya ’map’ 2.000 tiap pos, adan 20 pos, 2 pelapor tiap jam, trus kerja sehari 8 jam. 2.000x20x2x8 = 640.000 rupiah/hari dimakan petugas balai kota dari biaya ’map’. Itu baru taraf ’map’, ’amplop’nya? Untuk yang satu itu Rhe nggak tau, belon pernah kena.

Gedung besar, pegawai pilihan, fasilitas lengkap, digaji dengan uang rakyat, ada hanya untuk menipu rakyat. Pemandangan aneh lain yang tertangkap mata. Di sayap barat (kalo memang bisa dibilang sayap) terdapat kolam sejenis marmer dengan pancuran tinggi (tapi nggak nyala). Lagi-lagi menghabiskan uang untuk biaya sejenis marmer tapi nggak bisa nambah keindahan. Kenapa? Karena warnanya suram, tak terurus dan dihuni 5 ikan nila kurus. Mungkin dananya sudah keburu habis buat bangun kolam jadi nggak kuat beli ikan hias. Atau mungkin isinya lebih dari 5 ekor nila tapi keseringan diambil untuk kepentingan pribadi hingga tersisi 5 ikan. He.. he.. he.. Kebiasaan biaya ’map’ tu.

Bisa jadi sengaja dipasang nila sebagai lambang para pekerja. Ikan yang umumnya dipelihara di kolam tanah alias blumbang naik pangkat (atau dicabut dari asalnya) tinggal di kolam sejenis marmer. Tak ada pertukaran gas, tak ada kebebasan, tak ada asupan gizi. Akhirnya ikan jadi kurus, nggak keurus sampai kepucatan dan saling menyerang antar rekan. Wah, kq jadi ngomongin ikan?

Arsitektur, ya arsitekturnya juga maksa banget. Mungkin awalnya biar terkesan megah dibuat air mancur. Tapi air mancurnya ketinggian. Jadi kalo dinyalain, diameter lontaran air > diameter kolam, membuat lantai (bukan tanah) disekiratnya basah (coz lantai nggak nyerap air) trus licin, trus buat orang kepleset, trus buat orang jatuh, trus buat orang cidera. Lagi-lagi pemikiran yang hanya didasarkan pada penampilan luar, bukan fungsi manfaat keberadaan. Sok untuk rakyat tapi dibuat untuk kelas pejabat. Gimana rakyat (dalam definisi mayoritas kelas sosial) mo masuk? Ngintip aja mereka minder duluan. Ni Rhe buktinya, selama 22 tahun belon pernah masuk, nggak da yang ngajak masuk juga (kalo bukan karena ayah nggak ada).

Duh… Orang mati aja kq ribet banget ya? Mungkin yang mati nggak ribet, cukup memejamkan mata sambil menghentikan nafas. Tapi orang-orang hidup yang ditinggal si mati harus ribet urus sana urus sini. Urus surat pengantar RT, RW, kelurahan sampe buat akte kematian lewat kecamatan hingga balai kota. Ribet banget. Indonesia, apa-apa harus pake bukti, hitam di atas putih. Orang lahir disuratin, orang mati disuratin. Ilmu dinilai dari ijazah, pengalaman dinilai dari sertifikat. Hanya biaya ’map’ yang tidak bersurat.-***

05 Agst 2008

Bodoh vs Kritis

Stone age. Nggak tau apa maknanya, yang jelas, Batu. Pertama ngeliat mirip batu akuarium yang dijual kemasan. Itu lho, batu hias warna warni yang suka ditaroh di dasar akuarium. Tapi dari tempat temuannya sedikit janggal, Rhe menemukannya di kulkas lab. Farmaset. Di dalam kulkas di lab. Farmaset. Bukannya di situ biasa sebagai tempat simpan cangkang kapsul, salep, krim, gel bahkan suppositoria (itu tu obat yang cara pakainya dimasukkan lewat dubur). Tempat yang janggal bukan?

“Pak Is, ni batu apaan kq ditaroh sini? Akuarium bukannya dah dipindah di lab. Farfis?”

“Anak 2005 itu yang bawa. Kemaren katanya nitip karena di kosnya nggak da kulkas.”

”Rhe bukanya itu kamu minta? Kan kamu kemaren minta oleh-oleh coklat, nah tu apa yang kamu pegang?”

”Kaya’ gini… coklat…?” (sambil memasang tampang melas tidak percaya).

”Makan aja kalo nggka percaya.”

”Kau dulu gih.” (menyodorkan seplastik batu yang katanya adalah coklat).

Krauk…krauk..krauk… Tanda gigi menggauli sesuatu yang keras.

”Beneran ini bukan batu? Mana buktinya? Buka mulut, biar Rhe tau kau bener-bener dah memakannya.”

Dan akhirnya Rhe membuka santapan coklat hari ini dengan coklat batu tersebut, lanjut dengan coklat kacang, permen coklat, coklat karamel dan terakhir coklat Italy. Hari manis, harinya coklat.

”Jo yang aneh. Ke Singapura, beli coklat Italy. Memang di Singapura nggak da pabrik coklat pa? Memangnya di Indonesia nggak dijual coklat Italy?”

”Rhe ni tinggal makan bawel aja!!!”

”He..he..he.. mungkin Rhe mengidap ’aneh absolute’. Kalo da istilah ’bodoh absolute’ untuk orang yang tau kalo dirinya bodoh tapi suka membodoh-bodohkan orang lain, maka Rhe adalah orang aneh yang suka menganeh-anehkan orang lain.”

”Nyadar juga ni anak, dah tau dirinya aneh, masih aja ngerasa orang laen lebih aneh. Mau ntar sore ditemenin liat bedah buku ’Guru Goblok Mengejar Murid Goblok’? cocok tu buat orang kaya’ kamu.”

”Tapi akukan bukan orang bodoh?”

”Sapa juga yang bilang? Hanya sebagai referensi, orang yang suka bertanya adalah orang bodoh. Dia nanya karena dia nggak ngedong.”

”Trus berati Rhe bodoh karena keseringan nanya? Berarti Rhe patut bangga duong menjadi orang bodoh? Coz orang bodohlah yang gemar membaca buku untuk menjawab ketidaktauannya, bener?”

”Yup!”

”Kalo bodoh = gemar bertanya. Dan kritis = suka bertanya. Bodoh = kritis. Lalu apa bedanya orang bodoh dengan orang kritis?”

”Nggak ada.”

”Pasrah banget kau dengan teori ini? Itu tandanya kau mengakui kalo Rhe orang yang kritis?”

”Sekaligus bodoh, Iya.”

Pasang muka cemberut sambil tangan tetap aktif memasukkan coklat sebanyak-banyaknya ke dalam tas. Setidaknya walaupun dengan sepaor pengakuan, Rhe sudah diakui sebagai orang kritis hari ini (kritis otak, alias sekarat, makanya bodoh……. ^-^¿).-***-

04 Agst 2008

Crobo Cookies

Kepergian ayah hampir 2 minggu yang lalu (tepatnya 22 Juli 2008 di tempat kerja) ternyata memberikan bekas tersendiri. Tak lain dan tak bukan adalah kekacauan di rumah kami. Kekacauan dalam arti sebenar-benarnya. Kekacauan pikiran, kerja dan koordinasi saraf-otot. Setelah seminggu lalu Rian (si bungsu dan cowok satu-satunya saat ini dalam keluarga) sok menghindari gitar teman yang ditaroh sembarang akhirnya justru mematahkannya karena nggak sengaja menginjak dan melakukan penyelamatan dengan menyambung kembali berkat jasa lem UHU (moga empunya nggak sadar sampe saat gitar itu dimainkan dan kembali menjadi dua bagian). Maafkan adek Rhe.

Mami yang berniat membuat mie godhog sambil nglamun jadi kasatan (kehilangan kandungan air) dan melakukan penyelamatan dengan menambah kecap di mie yang dah coklat. Alhasil, mie yang semula direncanakan sebagai mie godhog diklaim sebagai mie goreng Jawa (nggak tau dapet nama itu dari mana, yang jelas bukan dari tampilan mienya). Sampai pada suatu siang Rhe yang kepanasan berniat baik mencari juice klapa muda dan pulang dengan ditertawakan seisi rumah.

“Nyil, yang mirip es doger tu apa? Kq nggak da isinya?”

Juice klapa muda. Kalo mau tuang ndiri, jangan minum yang di meja, tu buat mami.”

“Kenapa bukan juice manga?”

“Coz rencananya cari es degan tapi nggak nemu. Trus da yang jual juice yang rasanya mirip es degan. Ya udah Rhe beli.”

“Bukannya klapa muda itu memang nama degan ya?”

Mendadak menyadari kebodohan. Kalo memang benar klapa muda = degan, ngapain susah-susah ngejuice, mending kan langsung beli? Tapi pada kenyataannya memang dua hal tadi beda. Secara es degan berwarna putih kecoklatan (dengan asumsi telah ditambah gula merah) dan juice klapa muda cenderung pink. Jadi kesimpulanya, klapa muda ≠ degan.

Sebagai upaya mengurangi malu maka akhirnya Rhe memutuskan membuat brownies teman minum juice klapa muda. Setelah mempersiapkan semua perlengkapan, kembali kekacauan datang menghampiri dengan menghilangkan resep pusaka.

”Ndol, resepnya kau taruh mana. Terakhir masih nempel di sini. Pasti dilepas?”

”Tanya mami gih, enak aja nuduh orang!”

”Mi, resep resep brownies di mana?”

“Bukannya kamu simpan.”

Karena tidak berhasil menemukan si resep mujarab dan keberadaan bahan tak jelas takaran, kami pun memutuskan mengganti rencana brownies menjadi cookies. Resep berikut diperoleh dengan cara memasukkan semua bahan yang tersedian menjadi satu kesatuan adonan utuh.

R/ Mentega 2 plastik (tak tahu ukurannya)

Gula pasir 250 gram (sisain dikit kalo nggak mau kemanisan)

Teloar ayam 2 butir

Coklat batangan 1/3 batang

Tepung terigu 5 bungkus (dengan berat per bungkus tak diketahui)

Chocochips qs. (alias sepunyanya)

Mixer semua bahan lembek (yang bukan tepung ma chocochips) sampai cair. Masukkan terigu dan chocochips, aduk rata dan ambil 1 sedok teh untuk dipanggang. Perlu pengawasan ekstra selama pemanasan secara warna adonan awal susah dibedakan dengan kue matang yang juga berwarna coklat. Jangan sampai kebablasan hitam. Pahit. Resep di atas telah teruji aman jika dibuat dengan cara dan orang yang benar.

“Nyil mentega dah cair.”

“Matiin apinya trus mentega dituang sini.”

“Coklatnya kapan, dicariin dulu nggak?”

“Dah masukin aja, toh ntar juga hancur dimixer.”

Nggung…nggung..nggung.. Mendadak mixer ngadat tersumbat bongkahan coklat.

“Ndol cari sendok, keluarin coklatnya. Cepet!”

“Cabut dulu listriknya ntar kesetrum.”

Akhirnya kami bergulat dengan tangan kosong melawan mata mixer dan bongkah coklat yang nggak mau keluar. Setelah berhasil memaksa coklat menyerah, kami pun kembali lanjut berkarya. Sampai tiba-tiba kekacauan kembali datang.

Sendrup… sendrup… ingusan.

“Sekarang ngapain lagi Nyil? Inget ayah yang suka usil kalo da orang masak?”

“Bukan. Mixernya mati.” (ngomong dengan nada merajuk dan siap nangis) “Rhe belon sempet belajar benerin mixer ma ayah kalo sewaktu-waktu mixer mati. Trus sekarang kalo mixer rusak sapa benerin? Ni kq nggak mau muter?”

“Makanya pelan-pelan. Sini gantian.”

Dan Rian pun putus asa karena juga tak berhasil menyalakannya.

ZIGHR!!!!! Mixer tiba-tiba menyala dan menghamburkan cairan adonan ke meja diselingi tatapan puas mami.

”Ni lo Yah, anak-anakmu. Binggung mixer rusak padahal colokan nggak diperiksa dah nancep belum.”

Cengar cengir nggak karuan merasa kekacauan kembali datang tanpa alasan dan undangan. Dengan keyakinan tingkat tinggi bahwa meja cukup steril, maka kami pun menggembalikan adonan yang tumpah ke wadahnya dan segera mencampur dengan tepung dan chocochip. Kembali lagi dengan tepung bertebaran dimana-mana tentunya.

Rasa lega langsung terasa begitu mulai memanggang dan kembali frustasi mendapati hasil panggangan berwarna hitam. Ditambah lagi 2 loyang pertama terlalu encer sehingga takaran yang satu menyatu dengan takaran lain dan berupa kue basah, sungguh mirip roti sobek coz da galur yang menandakan tiap takaran awal yang siap disobek dari lue utuh satu loyang. Berbekal pengalaman, kami pun melakukan optimasi waktu pemanasan dan uji viskositas. Walaupun tanpa QC (Quality Control) cookies ini harus dibuat sesuai CPCB (Cara Pembuatan Cookies yang Benar) dan punya standar mutu.

“Kita namai apa kue kita hari ini.”

”Kue Segala Masuk. Kan cara buatnya memasukkan semua bahan yang berhasil ditemukan dan tersedia di rumah tanpa mencari tambahan apapun.”

”Nggak menjual. Gimana kalo Blacknies crispy?”

“Mirip ayam.”

Crobo cookies?”

“Setuju. Memang, proses dan bahan tidak ada yang bener-bener higienis. Tapi berkat pengovenan yang diakui sebagai salah satu metode sterilisasi dengan panas maka keamanan dan sterilitas produk dapat diterima. Bakteri? Lewat.”-***-

03 Agst 2008