Crobo Cookies

Kepergian ayah hampir 2 minggu yang lalu (tepatnya 22 Juli 2008 di tempat kerja) ternyata memberikan bekas tersendiri. Tak lain dan tak bukan adalah kekacauan di rumah kami. Kekacauan dalam arti sebenar-benarnya. Kekacauan pikiran, kerja dan koordinasi saraf-otot. Setelah seminggu lalu Rian (si bungsu dan cowok satu-satunya saat ini dalam keluarga) sok menghindari gitar teman yang ditaroh sembarang akhirnya justru mematahkannya karena nggak sengaja menginjak dan melakukan penyelamatan dengan menyambung kembali berkat jasa lem UHU (moga empunya nggak sadar sampe saat gitar itu dimainkan dan kembali menjadi dua bagian). Maafkan adek Rhe.

Mami yang berniat membuat mie godhog sambil nglamun jadi kasatan (kehilangan kandungan air) dan melakukan penyelamatan dengan menambah kecap di mie yang dah coklat. Alhasil, mie yang semula direncanakan sebagai mie godhog diklaim sebagai mie goreng Jawa (nggak tau dapet nama itu dari mana, yang jelas bukan dari tampilan mienya). Sampai pada suatu siang Rhe yang kepanasan berniat baik mencari juice klapa muda dan pulang dengan ditertawakan seisi rumah.

“Nyil, yang mirip es doger tu apa? Kq nggak da isinya?”

Juice klapa muda. Kalo mau tuang ndiri, jangan minum yang di meja, tu buat mami.”

“Kenapa bukan juice manga?”

“Coz rencananya cari es degan tapi nggak nemu. Trus da yang jual juice yang rasanya mirip es degan. Ya udah Rhe beli.”

“Bukannya klapa muda itu memang nama degan ya?”

Mendadak menyadari kebodohan. Kalo memang benar klapa muda = degan, ngapain susah-susah ngejuice, mending kan langsung beli? Tapi pada kenyataannya memang dua hal tadi beda. Secara es degan berwarna putih kecoklatan (dengan asumsi telah ditambah gula merah) dan juice klapa muda cenderung pink. Jadi kesimpulanya, klapa muda ≠ degan.

Sebagai upaya mengurangi malu maka akhirnya Rhe memutuskan membuat brownies teman minum juice klapa muda. Setelah mempersiapkan semua perlengkapan, kembali kekacauan datang menghampiri dengan menghilangkan resep pusaka.

”Ndol, resepnya kau taruh mana. Terakhir masih nempel di sini. Pasti dilepas?”

”Tanya mami gih, enak aja nuduh orang!”

”Mi, resep resep brownies di mana?”

“Bukannya kamu simpan.”

Karena tidak berhasil menemukan si resep mujarab dan keberadaan bahan tak jelas takaran, kami pun memutuskan mengganti rencana brownies menjadi cookies. Resep berikut diperoleh dengan cara memasukkan semua bahan yang tersedian menjadi satu kesatuan adonan utuh.

R/ Mentega 2 plastik (tak tahu ukurannya)

Gula pasir 250 gram (sisain dikit kalo nggak mau kemanisan)

Teloar ayam 2 butir

Coklat batangan 1/3 batang

Tepung terigu 5 bungkus (dengan berat per bungkus tak diketahui)

Chocochips qs. (alias sepunyanya)

Mixer semua bahan lembek (yang bukan tepung ma chocochips) sampai cair. Masukkan terigu dan chocochips, aduk rata dan ambil 1 sedok teh untuk dipanggang. Perlu pengawasan ekstra selama pemanasan secara warna adonan awal susah dibedakan dengan kue matang yang juga berwarna coklat. Jangan sampai kebablasan hitam. Pahit. Resep di atas telah teruji aman jika dibuat dengan cara dan orang yang benar.

“Nyil mentega dah cair.”

“Matiin apinya trus mentega dituang sini.”

“Coklatnya kapan, dicariin dulu nggak?”

“Dah masukin aja, toh ntar juga hancur dimixer.”

Nggung…nggung..nggung.. Mendadak mixer ngadat tersumbat bongkahan coklat.

“Ndol cari sendok, keluarin coklatnya. Cepet!”

“Cabut dulu listriknya ntar kesetrum.”

Akhirnya kami bergulat dengan tangan kosong melawan mata mixer dan bongkah coklat yang nggak mau keluar. Setelah berhasil memaksa coklat menyerah, kami pun kembali lanjut berkarya. Sampai tiba-tiba kekacauan kembali datang.

Sendrup… sendrup… ingusan.

“Sekarang ngapain lagi Nyil? Inget ayah yang suka usil kalo da orang masak?”

“Bukan. Mixernya mati.” (ngomong dengan nada merajuk dan siap nangis) “Rhe belon sempet belajar benerin mixer ma ayah kalo sewaktu-waktu mixer mati. Trus sekarang kalo mixer rusak sapa benerin? Ni kq nggak mau muter?”

“Makanya pelan-pelan. Sini gantian.”

Dan Rian pun putus asa karena juga tak berhasil menyalakannya.

ZIGHR!!!!! Mixer tiba-tiba menyala dan menghamburkan cairan adonan ke meja diselingi tatapan puas mami.

”Ni lo Yah, anak-anakmu. Binggung mixer rusak padahal colokan nggak diperiksa dah nancep belum.”

Cengar cengir nggak karuan merasa kekacauan kembali datang tanpa alasan dan undangan. Dengan keyakinan tingkat tinggi bahwa meja cukup steril, maka kami pun menggembalikan adonan yang tumpah ke wadahnya dan segera mencampur dengan tepung dan chocochip. Kembali lagi dengan tepung bertebaran dimana-mana tentunya.

Rasa lega langsung terasa begitu mulai memanggang dan kembali frustasi mendapati hasil panggangan berwarna hitam. Ditambah lagi 2 loyang pertama terlalu encer sehingga takaran yang satu menyatu dengan takaran lain dan berupa kue basah, sungguh mirip roti sobek coz da galur yang menandakan tiap takaran awal yang siap disobek dari lue utuh satu loyang. Berbekal pengalaman, kami pun melakukan optimasi waktu pemanasan dan uji viskositas. Walaupun tanpa QC (Quality Control) cookies ini harus dibuat sesuai CPCB (Cara Pembuatan Cookies yang Benar) dan punya standar mutu.

“Kita namai apa kue kita hari ini.”

”Kue Segala Masuk. Kan cara buatnya memasukkan semua bahan yang berhasil ditemukan dan tersedia di rumah tanpa mencari tambahan apapun.”

”Nggak menjual. Gimana kalo Blacknies crispy?”

“Mirip ayam.”

Crobo cookies?”

“Setuju. Memang, proses dan bahan tidak ada yang bener-bener higienis. Tapi berkat pengovenan yang diakui sebagai salah satu metode sterilisasi dengan panas maka keamanan dan sterilitas produk dapat diterima. Bakteri? Lewat.”-***-

03 Agst 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: