Idealisme Anak

Impian adalah milik semua orang. Namun berapa banyak orang yang mampu bertahan menggapai impiannya? Beberapa memang ada, tetapi sebagian besar menyerah pada tuntutan sosial dan mengabaikan impian mereka. Apakah mereka masih tetap hidup? Ya, mereka hidup. Hanya saja seberapa besar kelelahan mereka, Rhe nggak tau. Lelah, tentu saja, menuruti keinginan orang lain hanyalah sesuatu yang melelahkan dan menjebak seperti lingkaran setan, nggak da habisnya. Satu tuntutan terpenuhi, muncullah tuntutan-tuntutan lain. Ketika seorang yang mengejar impian dipandang sebagai pembangkang bahkan miltan, orang egois.

”Rhe mo ke ibukota. Silaturahmi di antara rekan satu komplotan.”

”Mendingan uangnya ditabung buat biaya kuliah. Waktu buat bepergian dibuat kerja. Kan jadi nggak buang-buang duit tapi malah tambah duit.”

”Kenapa urusan apapun selalu dibenturkan dengan urusan duit. Sapa tau Rhe buang duit sedikit sekarang tapi nambah relasi banyak buat dapet duit. Bisa aja kan? Lagian Rhe pergi nggak pake duit keluarga. Rhe pergi nggak pake duit peninggalan ayah. Rhe pergi dengan dana sendiri yang sengaja disiapin untuk urusan kaya’ gini.”

“Urusan MAEN!?!”

“Silaturahmi!”

Itulah salah satu contoh percakapan yang menjadi awal ditinggalkannya impian seseorang. Memenuhi tuntutan, memenuhi omongan orang, mengabaikan kepentingan pribadi. Segalanya dinilai dari pendapat sosial. Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

“Dia pacarmu?”

“Bukan.”

“Temen deket?”

”Hanya orang yang saling membutuhkan dan dibutuhkan.”

”Jangan terlalu dekat!”

”Memangnya?”

”Karena bukan sarjana.”

”Dia bukannya bukan sarjana, hanya belum lulus jadi sarjana. Toh masih terdaftar jadi mahasiswa.”

”Tapi angkatan tua?”

”Setidaknyna punya pikiran untuk bertahan hidup di tanah tetangga yang bukan tanah lahirnya.”

”Kamu sarjana dan kamu anak pertama. Kamu perlu pria mapan yang mampu menghidupi keluargamu, keluarga kita. Karena kamulah harapan keluarga ini.”

Lagi-lagi impian, cinta kalah dengan tuntutan. Serasa orang-orang telah menginvestasikan Rhe dan mewajibkan Rhe membayar kembali beserta bunga. Ya, bunga. Bunga yang sangat berat, meninggalkan impian dan cinta.

Awalnya adalah orang bebas. Orang yang seenaknya melakukan apa yang Rhe suka. Satu hal belum terlaksana, keliling Indonesia. Belum terlaksana karena keterbatasan waktu dan dana. Impian bebas yang belum dan sedang dirintis untuk terwujud setelah kewajiban studi berkurang. Namun ketika kesempatan itu ada (waktu dan dana dari Rhe), orang lain menyayangkan itu terjadi.

Akhirnya perdebatan golongan tua dan golongan muda. Si tua yang menyayangkan segala sesuatu dan si muda yang bertekad mewujudkan mimpinya. Si tua ingin si muda berguna bagi orang lain terutama keluarga, sedangkan si muda hanya ingin melakukan yang dia suka.

Berbekal tangisan dan kerapuhan akhirnya si tua memenangkan perdebatan panjang karena rasa kasihan si muda. Idealisme anak yang dia rancang khusus (sampe-sampe bikin blueprint) harus menyerah karena rasa kasihan yang dia berikan.

Satu lagi impian hilang dalam perjalanan hidup seseorang.-***-

30 Juli 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: