Biaya ’Map’

Pertama kali masuk Balai Kota. Sok anak kota, 22 taon tinggal di Jogja tapi belon pernah menginjakkan kaki menikmati pelayanan balai kota (berkat ayah nich, ngurus akte kematian, makasih Yah!). Bahkan mo masuk aja salah pintu. Wah, dulunya Rhe kira balai kota hanyalah lapangan tempat upacara 17an, ternyata banyak fungsinya. Rame banget, tentang surat menyurat. Dan kalo ngomongin surat menyurat, kegiatan ini yang peling sering dibumbui suap menyuap, pungli, alisan ’sogokan’.

Ada sekitar 20 meja pelayanan mulai dari pembuatan akte, pajak, sampai perijinan tanah. Katanya pelayanan tanpa biaya, bahkan kolom biaya pun dicoret, tapi kq petugas minta uang ’map’ 2.000? Itu baru untuk ngurus akte kematian (orang mati aja masih ditipu), belum akte kelahiran, surat keterangan sampei urusan-uruasan seperti perijinan tinggal, tanah dan ijin lain. Mungkin nggak cuma uang map tapi memang bener-bener amplop yang disodorkan untuk petugas.

Andai dianggap biaya ’map’ 2.000 tiap pos, adan 20 pos, 2 pelapor tiap jam, trus kerja sehari 8 jam. 2.000x20x2x8 = 640.000 rupiah/hari dimakan petugas balai kota dari biaya ’map’. Itu baru taraf ’map’, ’amplop’nya? Untuk yang satu itu Rhe nggak tau, belon pernah kena.

Gedung besar, pegawai pilihan, fasilitas lengkap, digaji dengan uang rakyat, ada hanya untuk menipu rakyat. Pemandangan aneh lain yang tertangkap mata. Di sayap barat (kalo memang bisa dibilang sayap) terdapat kolam sejenis marmer dengan pancuran tinggi (tapi nggak nyala). Lagi-lagi menghabiskan uang untuk biaya sejenis marmer tapi nggak bisa nambah keindahan. Kenapa? Karena warnanya suram, tak terurus dan dihuni 5 ikan nila kurus. Mungkin dananya sudah keburu habis buat bangun kolam jadi nggak kuat beli ikan hias. Atau mungkin isinya lebih dari 5 ekor nila tapi keseringan diambil untuk kepentingan pribadi hingga tersisi 5 ikan. He.. he.. he.. Kebiasaan biaya ’map’ tu.

Bisa jadi sengaja dipasang nila sebagai lambang para pekerja. Ikan yang umumnya dipelihara di kolam tanah alias blumbang naik pangkat (atau dicabut dari asalnya) tinggal di kolam sejenis marmer. Tak ada pertukaran gas, tak ada kebebasan, tak ada asupan gizi. Akhirnya ikan jadi kurus, nggak keurus sampai kepucatan dan saling menyerang antar rekan. Wah, kq jadi ngomongin ikan?

Arsitektur, ya arsitekturnya juga maksa banget. Mungkin awalnya biar terkesan megah dibuat air mancur. Tapi air mancurnya ketinggian. Jadi kalo dinyalain, diameter lontaran air > diameter kolam, membuat lantai (bukan tanah) disekiratnya basah (coz lantai nggak nyerap air) trus licin, trus buat orang kepleset, trus buat orang jatuh, trus buat orang cidera. Lagi-lagi pemikiran yang hanya didasarkan pada penampilan luar, bukan fungsi manfaat keberadaan. Sok untuk rakyat tapi dibuat untuk kelas pejabat. Gimana rakyat (dalam definisi mayoritas kelas sosial) mo masuk? Ngintip aja mereka minder duluan. Ni Rhe buktinya, selama 22 tahun belon pernah masuk, nggak da yang ngajak masuk juga (kalo bukan karena ayah nggak ada).

Duh… Orang mati aja kq ribet banget ya? Mungkin yang mati nggak ribet, cukup memejamkan mata sambil menghentikan nafas. Tapi orang-orang hidup yang ditinggal si mati harus ribet urus sana urus sini. Urus surat pengantar RT, RW, kelurahan sampe buat akte kematian lewat kecamatan hingga balai kota. Ribet banget. Indonesia, apa-apa harus pake bukti, hitam di atas putih. Orang lahir disuratin, orang mati disuratin. Ilmu dinilai dari ijazah, pengalaman dinilai dari sertifikat. Hanya biaya ’map’ yang tidak bersurat.-***

05 Agst 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: