Kemanakah Minyak Tanah?

Lengo mambu atau minyak bau atau lebih nasionalisnya minyal tanah. Minyak yang berasal dari tanah… Apapun itu, fungsi utamanya sebagai bahan bakar rumah tangga. Entah mengapa akhir-akhir ini menjadi incaran golongan bawah.

Antri berjam-jam hanya untuk mendapat 4 liter minyak (beli lho, bukan pembagian gratis). Pedagang eceran pun nggak dapat jatah untuk membeli partai besar, juga harus ikut ngantri. Kabarnya karena sekarang jatah untuk tiap agen dikurangi, jadwal pasokkan pun dari seminggu sekali jadi 3 minggu sekali. Padahal minyak tanah kan turunan bensin. Jika jumlah bensin di pasaran tidak berkurang, mengapa tiba-tiba minyak tanah langka di pasaran? Memangnya kemana perginya, ditimbun, untuk apa?

Saatnya mengganti minyak tanah ke gas. Tapi banyak warga takut menggunakan gas setelah sekian banyak kecelakaan yang diberitakan berkaitan dengan penggunaan kompor-tabung pemerintah. Nggak aman. Beli isi tabung pun nggak bisa ngecer. Kalo biasanya pendapatan harian 10.000 buat beli minyak 3.000, wajar. Sedangkan harga tabung 3 kilo 15.000. Apakah setiap mo beli tabung terpaksa nggak makan sehari?

Yah… Itulah minyak tanah. Warga, LSM, mahasiswa sibuk mengurus demo penurunan harga BBM. Kenapa? Bukankah bahan bakar nggak harus minyak? Ada biogas, biodisel, minyak jarak juga dalam pengembangan. Ada pilihan untuk mensubstitusi minyak tanah seperti arang atau kayu.

Mengapa harga minyak tanah terus diributkan? Sementara meributkan harga minyak, harga beras terus melonjak. Beras impor menggusur petani lokal. Sekarang bagaimana? Kalo minyak bisa disubstitusi, apakah beras juga? Mo makan apa, nasi aking, ketela, atau jagung? Dapet gizi dari mana, tenaga dari mana? Pantas bangsa kita dinilai sebagai bangsa yang malas. Orang setiap hari mengkonsumsi karbohidrat tanda gizi, kenyang trus ngantuk. Ya malas.

Jadi jangan terlalu meributkan harga dan kelangkaan minyak (tapi ributkanlah harga beras, lho…???). Namun mari kita usahakan cara-cara baru untuk mensubstitusi minyak dengan sesuatu yang lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Pada dasarnya Rhe setuju dengan kenaikan harga minyak, biar minyak bumi di dunia nggak terus-terusan dieksploitasi habis. Trus nanti generasi di bawah kita tak mampu lagi menikmatinya. Lagian dengan naiknya harga dan kelangkaan minyak, membuat orang-orang terdesak. Biasanya dalam keadaan terdesak manusia menjadi lebih kritis dan peka (dalam harapan yang positif). Dengan demikian mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam melakukan penemuan-penemuan baru guna mengganti minyak atau sekedar melakukan penghematan terhadapnya. Kan kita nggak harus lagi tergangtung pada BBM.-***-

06 Agst 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: