Koketsu Ni Irazumba Koji O Esu

“Keluar Jawa mau?”

“Mau Opa, tapi nggak mungkin ninggalin ini ni sendirian.” (sambil menunjuk ke arah ibu).

“Iya Kung. Anak harapan masa’ ninggalin ibunya?” Ibu yang selalu merasa bahwa Rhe harus menjadi ayah keluarga tidak bisa rela melepas begitu saja.

“Ada waktu satu taon untuk memikirkanya sekalian nunggu kuliahmu selesai. Kalo kamu mau, taon depan opa kirim kamu ke Kalimantan. Yen pengen anakmu golek pangan, yo col na.” (Kalo ingin anakmu cari makan, lepaskanlah.)

Ibu akhirnya menyerah. Pikiran utama, tugas utama Rhe mencari uang (memangnya uang ilang dimana sih harus dicari?). Kalo Rhe pergi demi alasan uang…. Ya, lepaskan. Duh, kesannya ibu jadi mata duitan ya? Salah ayah ni, pergi saat anak-anak belum pada taraf mapan, masih sekolah bahkan. Ibu yang awalnya sebagai ibu rumah tangga dipaksa berpikir tentang menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak menjadi tampak begitu perhitungan dan materialistis dalam semua hal.

Piye, mau nggak kamu? Berani ke Kalimantan?”

“Pedalaman nggak Opa?”

“Nggak mungkinkan opa ngirim kamu ke pedalaman? Anak kecil kaya’ kamu yang jadi sarjana aja belum pantes, lebih pantes jadi anak SMA masa’ mo dikirim ke rimba. Setega apa opa sampai kaya’ gitu, dimarahin ayahmu ntar. Samarinda atau Banjarmasin, mo yang mana?”

Samarinda… Tiba-tiba terlintas bayangan gorengan isi kelapa muda, kue samarinda. Wah ke Kalimantan, nyeberang laut liat lumba-lumba. Banyak sungainya, bisa mancing. Ayah yang paling seneng tu kalo disuruh mancing, hobi. Kue, laut dan ikan, tampaknya menyenangkan.

“Masih ada satu taon untuk berpikir. Pilih bener-bener. Harapannya ada peluang lain di Jawa taon depan. Tapi untuk saat ini yang ada baru di Kalimantan. Pikirkan saja dulu, siapa tau Tuhan punya rencana lain taon depan.”

Andai tak ada rencana Tuhan yang lain pun Rhe tetep pengen dan mau pergi ke sana. Asing memang, berbahaya mungkin, petualangan baru jelas. Walo lagi-lagi bentrok dengan ijin ibu tapi setidaknya satu restu sudah dikantong, restu opa yang akan melancarkan kepergian Rhe. Tuntutan dan idealisme berjalan berdampingan, duh senangnya. Samarinda… Bahaya, Rhe datang untuk keinginan. Satu taon lagi.-***-

09 Agst 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: