Archive for Januari 28th, 2009

Mana Pohonnya?

Merdeka!

Mungkin itu kata yang paling sering disebut hari ini. Tapi apa makna merdeka? Mengapa kita harus merdeka? Malaysia, Australia menjadi persemakmuran Inggris, maju. Singgapura, Hongkong disewa Inggris, berkembang pesat. Thailand, tidak pernah dijajah, biasa aja. Lalu mengapa Indonesia tidak dijajah saja, mengapa harus merdeka? Mungkin penjajahnya saja yang diganti, bukan Belanda yang rakus, tapi Inggris (he..he..). Jadi seperti apa ya wajah Indonesia saat ini?

Munculnya kemerdekaan. Merdeka lalu bangkit atau bangkit lalu merdeka? Pohon merdeka berbuah bangkit, atau pohon bangkit berbuah merdeka? Silahkan menimbang. Mungkin kalian punya jawaban.

Karena Indonesia, punya kalian.

170808

Iklan

Vokal ‘e’

“Menyatakan kemerdekaan Indonesia”

Bagaimana kalimat tersebut diucapkan pada masa awal kemerdekaan. Pasti bunyinya seperti ini: ‘Menyataken kemerdekaen Endonesia’. Apakah ini karena kentalnya darah Melayu sehingga vokal ‘an’ menjadi ‘en’? Atau saat itu Soeharto menjadi pencetus bahasa gaul yang sampai sekarang masih diikuti petinggi-petinggi negara, ‘kan’ menjadi ‘ken’. Selamat tu buat Soeharto yang telah menciptakan bahasa gaul pada masanya.

Lalu sekarang, apa alasan menyebut Indonesia (dengan lafal sesungguhnya seperti mengucapkan Indomie) lebih sering sebagai Endonesia. Yang satu ini efek apalagi? Efek lidah Jawa, yang sering menambahkan huruf e di akhir kata? Tentu bukan. Dan tidak ada pihak yang mengoreksi kebiasaan ini. Bahkan sering dijumpai Endonesia pada lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan saat upacara-upacara. Katanya lagu kebangsaan, kq nyebutnya aja salah?

Rhe jadi pengen jadi huruf e (untung mana Rhe sudah tercipta dengan huruf e, nggak seperti Dewi yang dipaksa menjadi Dewe’, Wewe’ yang punya pantat keloid ;p). Lihat saja urutannya: a, i, u, e, o. E tidak berada di depan bukan. Tapi mengapa justru e yang lebih sering disebut menggantikan vokal-vokal di depannya (a atau i). Kalo memang masalah lidah, susah ngubahnya.

Oleh karena itu (cie… bahasa baku), janganlah kita melanjutkannya. Bukan saatnya jadi penerus. Kita, bukanlah generasi penerus bangsa Indonesia (sudah bobrok kq diterusin). Saatnya menjadi pembaharu bangsa. Selamat berjuang generasi pembaharu, untuk Indonesia.

160808

Taukah kamu?

Reflek tangan kiri lebih cepat

Ini didasarkan pada penelitian ilmiah bahwa tangan kiri dikendalikan oleh otak kanan yang kaya akan intuisinya. Dengan berbekal intuisi tersebut, kecepatan tangan kidal lebih cepat. Namun untuk akurasinya masih perlu dipertanyakan lagi.

150808

Abu abu

Kamu memang bukan sosok pangeran impianku

Tapi kamu sosok yang nyaman untuk berteduh

Berbagi cemberut dan ceriaku

Maaf tak bisa memberimu warna

Karena aku ingin mewarnainya

Bersamamu

140808

Toxic Guling

Pilihan terakhir media komunikasi untuk membagi berita adalah SMS. Hal ini berlaku untuk: 1.) penyampai berita yang buruk, 2.) penerima berita yang buruk. Jika kamu termasuk salah satu atau kedua kriteria tersebut, maka jangan sekali-sekali ber-SMS untuk memberi berita.

Osn : Rhe, aq skrg d dket rmhmu, hbs makan.

Rhe : terus?

Osn : Ni slesai makan

Rhe : kmu sls makan atw km d dkt rmhq?

Osn : Dah sls kq, makan kambing guling

Rhe : d dket rmhq da kambing guling?

Osn : Iya, msh d dket rmhmu

Rhe : mang da warung kambing guling d dket rmhq? sate Djono kli?

Osn : G d wrg, tp d studio tato. Toxic tattoo, tau?

Rhe : studio tato jual kambing guling?

Osn : G lah! Makannya aja d toxic tattoo

Rhe : trus yg dket rmhq toxic tattoo or kambing guling?

SMS pun berakhir dengan tatap muka membahas si kambing guling di toxic tattoo. Pemahaman Rhe: kambing guling berlokasi di dekat rumah Rhe. Toxic tattoo = workshop tato = jalan Parangtritis. Bagaimana 1 orang berada di 2 tempat yang berjauhan dalam waktu yang sama?

Fakta: Osn dkk beli kambing guling (ntah dimana), membawanya ke toxic tattoo buat dimakan rame-rame. Toxic tattoo ≠ workshop tato. Toxic tattoo = deket rumah Rhe. Mereka makan kambing guling di toxic tattoo di deket rumah Rhe (trus ngapa ya mereka harus pindah dari workshop tato ke toxic tattoo hanya untuk makan kambing guling yang tidak dijual di toxic tattoo?).

Akhirnya Rhe berputar-putar pada penjelasan dan pertanyaan yang tak ada habisnya. Benar jika tertiulis: kebenaran selalu tidak sederhana. Buktinya untuk memahami toxic tattoo nggak jual kambing guling aja perlu penjelasan panjang lebar (apa lagi lewat SMS). Jadi jangan pernah gunakan SMS untuk memberi penjelasan berita kepada orang jika kamu termasuk kriteria di atas. Kecuali…

Kamu memang tidak pernah sayang kepada pulsa kamu.

14 Agst 2008

Baik Itu Bisa

Aku tau kamu baik

Aku tau kamu orang baik

Aku tau tanpa kamu kasih tau kalo kamu secara garis besar baik

Aku nggak mau kehilangan orang yang baik sama aku

Aku nggak mau nyakitin orang baik

Aku sayang sama orang baik

Aku nggak mau nyakitin orang yang aku sayang

140808

Sandal, Dilarang Masuk

BRS online. Disediakan waktu 2 hari. Hari pertama angkatan 2005-2007 (secara 2008 masih paket). Hari kedua 1998-2004. Gila angkatan ’98! Kalo ini nggak sekedar tua tapi dah memfosil. Gimana nggak, kalo maksimal kuliah 7 taon (2008-7=2001)? Angkatan ’98 adalah angkatan yang benar-benar lewat ED (exp. date) kalo memang mereka masih beredar di pasaran (lho…).

Setelah Buka (ibu kaprodi) ngomel karena ada anak yang masih ngambil mata kuliah yang akan diganti jadwalnya (setelah ditelusur, ternyata 1 orang itu adalah anak yang diisikan sendiri oleh Buka), giliran sandal yang jadi masalah. ’Mahasiswa peserta BRS online wajib menggunakan baju berkerah dan bersepatu.’ Peraturan ini dipegang teguh oleh panitia.

Kaos bisa disamarkan dengan jaket berkerah. Kalo sandal kan nggak bisa disamarkan dengan kaos kaki bersepatu (model apa pula ini?). Maka terjadilah teriak meneriak memanggil sepatu dan mengusir sandal. Ili yang kreatif segera membuka persewaan sepatu dengan ongkos 1 bungkus Cak Rano sekali masuk.

”Hei, sandal kamu! Kq bisa masuk? Keluar, ganti sepatu!” Ayu menunjuk sandal sambil memasang muka seram.

Sandal terhuyung-huyung keluar memanggil sepatu.

”Sepatu, aku ditolak masuk kedalam. Hanya kamu yang diijinkan masuk. Tolong gantikan aku.”

Sepatu berjalan congkak, masuk BRS online. Keluar dengan penuh kemenangan.

”Sandal, jadilah sepertiku supaya bisa diterima masuk kedalam. Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

Sepatu dan sandal bertukar tempat. Berganti-ganti dari sandal pertama sampai sandal keenam. Sepatu congkak karena bisa menggantikan mereka semua. Tiba saatnya di sandal ketujuh. Setelah selesai BRS online, sepatu terhuyung–huyung mencari sandal.

“Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

“Tidak mau.”

“Mengapa?”

“Bukankah kau bangga jadi sepatu karena bisa diterima di semua tempat?”

“Iya. Tapi majikkan ini terlalu besar. Aku tak mampu menahannya. Lalu?”

”Begitulah. Aku tak ingin jadi sepatu sepertimu. Aku hanya ingin menjadi pas dengan majikanku. Kaki.”

Sepatu sadar, sandal adalah suatu yang pas untuk sang majikkan, tak perlu ia gantikan. Jadi mengapa sandal selalu dianaktirikan, dilarang masuk. Mulai sekarang:

Sandal, silahkan tunggu di luar.

13 Agst 2008