Sandal, Dilarang Masuk

BRS online. Disediakan waktu 2 hari. Hari pertama angkatan 2005-2007 (secara 2008 masih paket). Hari kedua 1998-2004. Gila angkatan ’98! Kalo ini nggak sekedar tua tapi dah memfosil. Gimana nggak, kalo maksimal kuliah 7 taon (2008-7=2001)? Angkatan ’98 adalah angkatan yang benar-benar lewat ED (exp. date) kalo memang mereka masih beredar di pasaran (lho…).

Setelah Buka (ibu kaprodi) ngomel karena ada anak yang masih ngambil mata kuliah yang akan diganti jadwalnya (setelah ditelusur, ternyata 1 orang itu adalah anak yang diisikan sendiri oleh Buka), giliran sandal yang jadi masalah. ’Mahasiswa peserta BRS online wajib menggunakan baju berkerah dan bersepatu.’ Peraturan ini dipegang teguh oleh panitia.

Kaos bisa disamarkan dengan jaket berkerah. Kalo sandal kan nggak bisa disamarkan dengan kaos kaki bersepatu (model apa pula ini?). Maka terjadilah teriak meneriak memanggil sepatu dan mengusir sandal. Ili yang kreatif segera membuka persewaan sepatu dengan ongkos 1 bungkus Cak Rano sekali masuk.

”Hei, sandal kamu! Kq bisa masuk? Keluar, ganti sepatu!” Ayu menunjuk sandal sambil memasang muka seram.

Sandal terhuyung-huyung keluar memanggil sepatu.

”Sepatu, aku ditolak masuk kedalam. Hanya kamu yang diijinkan masuk. Tolong gantikan aku.”

Sepatu berjalan congkak, masuk BRS online. Keluar dengan penuh kemenangan.

”Sandal, jadilah sepertiku supaya bisa diterima masuk kedalam. Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

Sepatu dan sandal bertukar tempat. Berganti-ganti dari sandal pertama sampai sandal keenam. Sepatu congkak karena bisa menggantikan mereka semua. Tiba saatnya di sandal ketujuh. Setelah selesai BRS online, sepatu terhuyung–huyung mencari sandal.

“Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

“Tidak mau.”

“Mengapa?”

“Bukankah kau bangga jadi sepatu karena bisa diterima di semua tempat?”

“Iya. Tapi majikkan ini terlalu besar. Aku tak mampu menahannya. Lalu?”

”Begitulah. Aku tak ingin jadi sepatu sepertimu. Aku hanya ingin menjadi pas dengan majikanku. Kaki.”

Sepatu sadar, sandal adalah suatu yang pas untuk sang majikkan, tak perlu ia gantikan. Jadi mengapa sandal selalu dianaktirikan, dilarang masuk. Mulai sekarang:

Sandal, silahkan tunggu di luar.

13 Agst 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: