Archive for Januari, 2009

Senyum di Pagi Hari

Pagi adalah awal hidup hari ini. Awali pagi dengan senyum, bukan masalah apalagi marah-marah. Karena senyum di pagi hari akan membuat hidup indah hari ini (pesan ayah, ntah sejak kapan).

Berbekal ucapan inilah kami selalu berusaha membuat pagi yang indah tanpa masalah dan marah-marah. Orang paling konsekuen adalah ayah, yang paling sering mengalah untuk menghindari omelan pagi hari. Demi senyum di wajah setiap orang saat meninggalkan rumah. Senyum di pagi hari.

Osn 06:24

Met pagi

Rhe 06:28

Met pagi…

Osn 06:31

Ya, tp nulisnya g usah pake cemberut gitu donk…

Rhe 06:36

kePDan! Mang liat aq cemberut? Ni baru ngakak” ma babi ngesot. G tw kan km?

Osn 06:41

Tp tu tampangmu kusut abis. Apa krn bangun tidur ya?

Rhe 06:45

Dah, berangkat kerja sana! Jamq dah 06:46. Hrs smp jam 7 kan?

Osn 06:46

Hehe… Smile please… Nah, ya dah c u…

Percakapan nggak penting di pagi hari (pemalas banget ya, jam segitu baru bangun?). Ntah kenapa terasa beda aja. Sapaan pagi sederhana. Bukan nuntut apa-apa, hanya senyum. Senyum di pagi hari.

Makasih dah buat Rhe tersenyum pagi ini. Ayah, ada orang yang mengikuti jejakmu. Love U.

12 Agst 2008

Iklan

Kesempatan Kedua

Harapan telah merintis jalan pada sinar pagi yang cerah.

Sebuah kalimat yang menguatkan Rhe manyambut hari ini (walo cuaca nggak sepenuhnya cerah, cenderung mendung, terpaksa menahan air di ketinggian). Siap-siap ke kampus untuk memenangkan ego. Lanjut studi (belajar kq nggak bosen-bosen ya?). Masih seneng jadi mahasisawa, terima gaji buta tanpa kerja. Dan khayalan indah Rhe dikacaukan dangan pesan singkat dalam layar.

From: Wewe’

06:40

Rhe, aq g ngerti apa yg km putusin bwt dia, aq tw brat bwt km, tpi kl bs coba bri dia ksempatn. Klo da ksmptn dia bakal buktiin diri. Kmrn km g dngerin pjelasn dia kan?

Hari mendadak mendung (padahal dari awal memang dah mendung). Kesempatan? Perlu diberi berapa kali pun, untuk orang dengan tingkat nggak peka level tinggi, nggak akan paham. Memang pengorbanannya nggak seberapa, tapi pasrahnya luar biasa. Pasrah dibentak-bentak, pasrah disuruh-suruh, pasrah dimaki-maki (makhluk bernama Rhe bermutasi jadi monster betina dihadapannya). Di saat lain bisa jadi pendengar yang baik, penghibur yang baik, merasionalkan jalan-jalan buntu (dalam kondisi ini Rhe menyusut jadi makhluk rapuh).

Mencoba memperbaiki sesuatu hanya menjadikannya lebih buruk.

Tulisan itu tiba-tiba tampak jelas di salah satu halaman buku bercover coklat. Pertanda alam. Tak perlu lagi bahas kesempatan kedua. Cukup belajar dari masa lalu, itu aja. Yang lalu biarlah menjadi sejarah, melangkahlah untuk masa depan.

Rhe pun meninggalkan buku itu dan melupakan kejadian pagi ini. Ngeloyor masuk kantor mencari Dekan.

”Rhe tangal 13,14 da acara nggak? Pengangguran kan?” Pertanyaan Lyd yang nonjok. Memang sudah dinyatakan lulus, tapi kan belum yudisium. Masih bisa ngaku sebagai mahasiswakan? Kq dah dibilang pengangguran?

“Nggak, kenapa?”

“Bantu jaga BRS online ya?”

“OK!”

Kemarin nggak diterima jaga ujian karena telat daftar. Sekarang tanpa daftar malah ditawarin. Apa ini yang namanya kesempatan kedua? Kalo Rhe aja dikasih, kenapa Rhe nggak bisa ngasih buat orang lain?

Tiap upaya untuk tidak berbuat apapun, supaya tak ada yang bisa keliru, akan keliru.

11 Agst 2008

Holiday

Libur identik dengan bepergian. Memangnya libur harus pergi maen? Belum tentu. Libur hari ini cukup dimanfaatkan untuk menikmati pulau busa plus bantal malas. Berada di kamar seharian benar-benar lebih dari cukup. Setelah seminggu full ribet ini itu, berburu ini itu, akhirnya berkas selesai juga.

Ternyata beginilah kuliah, masuknya susah, keluarnya apalagi. Pendadaran cukup melelahkan, setelah pendadaran tak juga berkurang. Masih harus revisi per dosen, minta persetujuan penjilidan, buat naskah publikasi, buat PDF trus berburu dosen untuk penyerahan skripsi. Belum lagi menyerahkan ke sekretariat ma perpus yang kebanyakan syarat. Syarat tidak tertulis tau-tau ditolak begitu saja hanya gara-gara tempat CD nggak warna pitih (padahal tidak ada ketentuan tetang hal ini). Jadi perlu balik lagi hari berikutnya. Setelah perburuan dosen dan tempat CD, ternyata masih da 1 perburuan lagi, jilidan. Ntah kenapa mendadak hampir semua tempat fotokopi penuh kerjaan, jadi perlu 3 hari untuk jilid, paling cepat 2 hari. Padahal pendaftaran yudisium paling lambat Kamis (07 Agst) karena rapatnya Jumat, pendaftaran maksimal 1 hari sebelumnya. Selesai jilidan baru Jumat siang. Berkat sedikit maksa ma tukang jilid, akhirnya jilidan bisa keluar Jumat pagi.

Jumat pagi dimulai perburuan kembali. Ambil jilidan trus berburu dosen untuk menyerahkan jilidan. Semua tanda tangan lengkap, daftar yudisium deh, sapa tau masih sempat. Ternyata…

“Bebas prodinya mana?”

“Nah kan dah da di dalam map semua, Mas.”

“Ini kurang surat bebas prodi.”

“Perasaan dah di dalam situ.”

”Coba periksa lagi.”

Rhe pun mengambil kembali map dari tangan mas Narto dan… Memang benar, surat bebas prodi tidak ditemukan. OMG, kemanakah lembaran itu? Sambil kasak kusuk nggak jelas, panik mencari surat BP.

”Mas, ni diterima dulu saja bagaimana? Nanti surat BP-nya nyusul.”

”Memang kenapa maksa banget.”

”Kan buat daftar yudisium bulan ini.”

”Rapat yudisiumnya minggu depan.” Cengar cengir mas Narto menyebalkan memberitakan kabar gembira. ”Rapat yudisium tu Jumat minggu kedua, bukan Jumat kedua. Minggu kedua bulan ini kan minggu depan. Jadi rapatnya juga minggu depan, tanggal 15.”

Puji Tuhan. Masih sempat terkejar yudisium bulan ini. Tapi ngomong-ngomong, surat BP nongol tiba-tiba di antara tumpukan berkas. Tu kan kalo nggak dicari aja menampakkan diri, kalo terburu-buru mendadak nggak akur ma kita dan bersembunyi. Berhubung berkas sudah lengkap (walo belum mepet) Rhe masukin sekalian hari itu. Senangnya selesai juga, tinggal nunggu pengumuman. Minggu yang sibuk, sibuk berburu.

Sekarang saatnya balas dendam. Malas keluar, menikmati kamar senikmat-nikmatnya. Habiskan waktu untuk… TIDUR.

10 Agst 2008