impian atau komoditi?

Minggu, 13 desember 2009

Salah satu stasiun tv swasta (yang kita tau siapa) mengadakan acara pencarian bakat, anak. Tak beda dengan ajang-ajang lain. Bukan hanya satu stasiun ini aja, yang lain pun juga. Ketika cinta tak lagi suatu yang sakral, cinta instan untuk komoditi orang-orang yang mencari hiburan. Suatu kemenangan akan ketenaran dan hadiah.

Sesuatu yang kata na penting pun tak lagi memiliki kesakralan na dengan hanya mencari komoditi hiburan kaum-kaum yang tidak terhibur. Maka…

Kini bukan sesuatu yang mengherankan ketika impian pun bukan sesuatu yang perlu diraih dan diperjuangkan. Lagi-lagi… komoditi si pemiliki modal untuk mengembangkan modal na. Dengan alasan.. mengejar impian. Siapa sih yang ga mau jadi terkenal??? Suatu stereotipe impian sukses yang dibentuk pemilik modal demi keuntungan mereka sebenar na.

Lalu… melihat adik-adik kecil kita, yang bermain riang di pantai, memainkan layang-layang di tengah sawah, bercanda dengan teman-teman, berbasah-basahan di sungai…

Impian sederhana mereka yang sebenar na… bermain dan menghabiskan masa kecil mereka yang menyenangkan… ntah ngapa dibentuk untuk suatu kemenangan akan kontes, yang ntah atas keinginan sendiri atau keinginan para dewasa, orang tua, sebenar na.

Melihat adik-adik kita dipoles dan dibentuk demi komoditi hiburan…

Jadi, benarkan ini impian, suatu kemenangan? Atau komoditi penjual hiburan kepada para pencari hiburan??

Seperti cinta instan yang dikonteskan. -***-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: