euforia mudik (part 1)

jakarta, 23 des 2009

halte harmoni penuh sesak. memang biasa seperti itu kalo jam pulang kantor, ditambah lagi dengan liburan panjang, natal. mayoritas pengguna transjakarta saat itu (18.00) adalah pemudik-pemudik yang hendak singgah di pasar senen. ada sih stasiun yang lebih deket, gambir, tapi yang satu ini khusus KA eksekutif, jadi pengunjung na juga ekslusif.

setelah jibaku ma penjual tiket trans yang agak sewot (maklum, kami juga sewot cz belon punya tiket pulang ‘n ni dah kurang dr 3 jam sebelum keberangkatan), kami pun masih harus berjibaku bersama rekan-rekan ikan pindang yang sama-sama menunggu untuk masuk ke penggorengan. beda na.. kali ini kami berebut masuk ke penggorengan, secara sadar.

di tengah keegoisan desak mendesak antar pindang, 1 teman kami berhasil lolos dan melaju ke depan. bukan untuk masuk ke penggorengan tentu na cz dah limit batas. tapi aneh na penjaga pintu masih memperbolehkan 1 kakak kami ini masuk. n dengan polos na dia bilang…

‘teman-teman saya ketinggalan di belakang’

‘berapa temen na’

‘2’

hurai… untung lah dia masih mengingat pindang-pindang ini sebelum masuk ke penggorengan. padahal waktu itu da bapak sadis yang nimpuk kepala hanya untuk merebut antrian. what’s?! sakit tau..

‘n dengan password yang tepat tadi, kakak kami mendadak menjadi kakak tercinta’n ibu pindang-pindang dengan tindakan hero na.. berhasil membuat penjaga memberikan jalan lapang buat 2 pindang yang masih ketinggalan di bekalang. serasa mendapat karpet merah.. kami pun melenggang menuju pintu penggorengan, menjadi pindang yang sepindang-pindang na. sambil melenggang manis, plus say good bye plus bilang.. ‘sorry pak, kami duluan’ (diakhiri dengan menjulurka lidah 😛 ) ke bapak yang nimpuk kepala dengan kemenangan 200%.

100% cz kami berhasil keluar duluan, 100% cz kami keluar dengan jalan yang sangat sangat lapang, tanpa halangan. dan kami pun menjadi 100% pidang di dalam bus (yang serasa oven ternyata bukan penggorengan) dengan kapasitas berlebih yang semakin berlebih dengan diisi 3 ekor pindang lagi. jangankan bergerak, untuk menutup pintu aja susah, untung tidak ada yang sampai dikorbankan (pindang penyet ;)).

dan akir na kami pun melaju ke pasar senen. kotak besi… here we comes!!! -***-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: