Archive for Januari, 2010

bos mami pelupa ‘lagi’

mami: ‘ga da yang ke gedung hijau biru (HB) hari ini?’

serempak: ‘nggak……’

mami: ‘bagus dunk, b’arti dah kelar semua. ga da waiting list lagi’ -senyum-senyum mode ON-

serempak: ?!?!?!?

ga tau apa maksud senyuman mami, senyum ikhlas, senyum kemenangan, senyum sindiran or… apalah. tapi langsung dijawab dengan kebingungan serempak. apa hobby baru mami mang senyum-senyum ya??? setelah hobby ga makan untuk mendapat proporsi tubuh ideal (versi na).

mami: ‘jadi ini yang waiting list tolong segera diselesaikan ya. kan ga da yang ke gedung HB. kelar dan beres’

serempak: boeng!!!

ni mami kenapa sih??? resolusi taon baru jadi pikun ya??? perasaan kemaren yang kasih tau klo selama bulan pertama loket gedung HB tutup (lengkap dengan pengumuman itu ditulis di kertas apa, ditempel di mana) malah nyuruh kami ke sana. buat apa?? bersih-bersih?? kan loket na tutup mi… idih, ni mami ada-ada aja. pikun mode ON. kenapa sih mami semangat banget mendorong kami ke gedung HB?? ada apa di sana???

ternyata… itu salah satu alasan supaya mami bisa memamah biak tanpa ketauan. selama ni rhe selalu merasa… wah, hebat sekali ni mami bisa tahan ga makan seharian cz rhe ga pernah nemuin mami makan bareng yang lain. ternyata… sepulang dari gedung HB kemaren rhe menemukan na makan di pos satpam. what’s? kliatan na resolusi mami (ntah apapun itu) berlebihan sampai mengganggu fungsi otak sebenar na. mpe mami lupa di mana tempat makan yang sebenar na.

di meja. ya bener sih… mami juga makan di meja, bukan di kursi, tapi kq ya… di meja yang da di pos satpam (sebelum na, jangan bayangkan pos satpam yang berbentuk pos ya. ni di ruang terbuka, ga langsung di samping jalan sih… tapi lumayan panen debu). memang… rhe juga ga setuju dengan tempat makan yang disediakan, dapur yang bau pengap. tapi bukan b’arti harus milih di pos satpam kan? setidak na masih ada warung or tempat makan lain yang bisa dijadikan tumpangan sementara.

manusiawi sih… ga tahan lapar, bahkan itu esensi manusia yang sesungguh na, urusan perut. tapi jika amat sangat ga tahan, masa ya ga tahan hanya untuk jalan sebentar ke tempat makan ‘n b’akir di pos satpam. aduh mami…. jangan lupa lokasi dunk. selama ni rhe dah mengagumi kau yang tahan ga makan seharian dengan disaksikan mata lukisan, telinga dinding dan hidung-hidung kelaparan kami. tapi nyata na kau tetap manusia biasa yang butuh logistik dan… pelupa. lupa loket tutup dan lupa ‘lagi’ lokasi makan. mungkin pos satpam adalah salah satu lokasi untuk membangun relasi. koneksi sambil makan siang. down to earth! salut mami -***-

Iklan

euforia mudik (part 3)

sekali lagi tentang kereta dan perjalanan…

bagi mereka-mereka yang merasa sebagai perantau, libur panjang bukan berlabel liburan tapi… mudik. ya, saat orang-orang daerah (non perantau) liburan, perantau-perantau ini melakukan siklus ‘hampir’ tahunan, mudik. berpindah dari tempat perantauan ke kampung halaman. dan kembali melakukan perjalanan… dari kampung halaman ke perantauan. migrasi yang dilakukan secara serempak oleh perantau.

begitu juga kali ini, setelah liburan selesai.. para pemudik ini kembali melakukan migrasi ke tempat perantauan. dari yang dikatakan desa ke yang dikatakan kota. perjalanan kali ini rhe tempuh dengan ‘lagi-lagi’ kereta api. sedikit turun tingkat karena kelas yang dipilih adalah kelas ekonomi, dengan tiket dan tetap lesehan. ternyata level kelas juga mempengaruhi sikap orang.

penumpang kelas bisnis eksekutif merasa nyaman dengan posisi mereka sehingga tidak melakukan tindakan-tindakan merugikan untuk mempertahankan posisi mereka. sedangkan kelas ekonomi, di mana posisi diperoleh melalui usaha keras, mereka dengan semena-mena melakukan upaya untuk mempertahankan posisi ‘aman dan nyaman’ mereka.

sedikit kecewa ketika rhe lihat, praktik-praktik seperti itu. tapi… pilihan terbanyak yang menang (padahal kata na negeri demokrasi). dari stasiun awal, penumpang sudah berjubel, termasuk rhe salah satu korban orang yang kurang keras berusaha. terbukti.. harus kembali, lesehan. di sinilah mereka mulai mencari posisi ‘untuk dapat lesehan’ nyaman, bahkan pemandangan wajar ketika kamar mandi merupakan pilihan ketika space kosong tidak dimungkinkan lagi. pemilihan tempat ini jelas menyiksa orang 1 gerbong terutama mereka yang ingin ke belakang cz mereka tidak bisa menggunakan fasilitas toilet dan harus menahan panggilan alam sepanjang perjalanan.

hal lain adalah mengunci pintu gerbong karena orang-orang memanfaatkan ruang di lorong antar gerbong dan merasa nyaman dengan sepetak tempat itu. egoisme ini sangat mengganggu pemegang tiket di stasiun-stasiun berikut na. penumpang dari stasiun-stasiun berikut na tidak diberikan kesempatan untuk masuk kereta, terpaksa mengedor-gedor pintu gerbong demi kesempatan masuk kereta. padahal mereka sebenar na juga memiliki kesempatan yang sama seperti pengunci-pengnunci pintu ini karena mereka juga pemilik-pemilik tiket kereta yang notabene berhak memanfaatkan fasilitas kereta. tapi… kembali lagi, kepentingan individu dibenturkan dengan kepentingan individu  lain sehingga mereka saling mempertahankan kepentingan masing-masing agar kepentingan mereka tidak tergeser. itulah contoh na. mereka tidak memberi kesempatan kepada pemilik kesempatan yang sama seperti mereka.

tempat aja mereka dapat dengan perjuangan, ngapain dikasih ke orang lain. or.. tanpa kau pun aku dapet tempat sempit, apalagi dengan ada na kalian. mungkin itulah yang ada di pikiran mereka. wow! dan… kembali kepentingan orang lain yang dikorbankan.

itu baru yang dari luar mau ke dalam kereta… di dalam gerbong, juga perlu perjuangan. dari mempertahankan kependudukan dari gangguan penghuni lain dan pengamen, penjual or makluk-makluk lain yang berusaha bertahan hidup di kereta. kehidupan di dalam transportasi indonesiawi. penuh dengan mempertahankan hidup dan wilayah nyaman. -***-