euforia mudik (part 3)

sekali lagi tentang kereta dan perjalanan…

bagi mereka-mereka yang merasa sebagai perantau, libur panjang bukan berlabel liburan tapi… mudik. ya, saat orang-orang daerah (non perantau) liburan, perantau-perantau ini melakukan siklus ‘hampir’ tahunan, mudik. berpindah dari tempat perantauan ke kampung halaman. dan kembali melakukan perjalanan… dari kampung halaman ke perantauan. migrasi yang dilakukan secara serempak oleh perantau.

begitu juga kali ini, setelah liburan selesai.. para pemudik ini kembali melakukan migrasi ke tempat perantauan. dari yang dikatakan desa ke yang dikatakan kota. perjalanan kali ini rhe tempuh dengan ‘lagi-lagi’ kereta api. sedikit turun tingkat karena kelas yang dipilih adalah kelas ekonomi, dengan tiket dan tetap lesehan. ternyata level kelas juga mempengaruhi sikap orang.

penumpang kelas bisnis eksekutif merasa nyaman dengan posisi mereka sehingga tidak melakukan tindakan-tindakan merugikan untuk mempertahankan posisi mereka. sedangkan kelas ekonomi, di mana posisi diperoleh melalui usaha keras, mereka dengan semena-mena melakukan upaya untuk mempertahankan posisi ‘aman dan nyaman’ mereka.

sedikit kecewa ketika rhe lihat, praktik-praktik seperti itu. tapi… pilihan terbanyak yang menang (padahal kata na negeri demokrasi). dari stasiun awal, penumpang sudah berjubel, termasuk rhe salah satu korban orang yang kurang keras berusaha. terbukti.. harus kembali, lesehan. di sinilah mereka mulai mencari posisi ‘untuk dapat lesehan’ nyaman, bahkan pemandangan wajar ketika kamar mandi merupakan pilihan ketika space kosong tidak dimungkinkan lagi. pemilihan tempat ini jelas menyiksa orang 1 gerbong terutama mereka yang ingin ke belakang cz mereka tidak bisa menggunakan fasilitas toilet dan harus menahan panggilan alam sepanjang perjalanan.

hal lain adalah mengunci pintu gerbong karena orang-orang memanfaatkan ruang di lorong antar gerbong dan merasa nyaman dengan sepetak tempat itu. egoisme ini sangat mengganggu pemegang tiket di stasiun-stasiun berikut na. penumpang dari stasiun-stasiun berikut na tidak diberikan kesempatan untuk masuk kereta, terpaksa mengedor-gedor pintu gerbong demi kesempatan masuk kereta. padahal mereka sebenar na juga memiliki kesempatan yang sama seperti pengunci-pengnunci pintu ini karena mereka juga pemilik-pemilik tiket kereta yang notabene berhak memanfaatkan fasilitas kereta. tapi… kembali lagi, kepentingan individu dibenturkan dengan kepentingan individu  lain sehingga mereka saling mempertahankan kepentingan masing-masing agar kepentingan mereka tidak tergeser. itulah contoh na. mereka tidak memberi kesempatan kepada pemilik kesempatan yang sama seperti mereka.

tempat aja mereka dapat dengan perjuangan, ngapain dikasih ke orang lain. or.. tanpa kau pun aku dapet tempat sempit, apalagi dengan ada na kalian. mungkin itulah yang ada di pikiran mereka. wow! dan… kembali kepentingan orang lain yang dikorbankan.

itu baru yang dari luar mau ke dalam kereta… di dalam gerbong, juga perlu perjuangan. dari mempertahankan kependudukan dari gangguan penghuni lain dan pengamen, penjual or makluk-makluk lain yang berusaha bertahan hidup di kereta. kehidupan di dalam transportasi indonesiawi. penuh dengan mempertahankan hidup dan wilayah nyaman. -***-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: