Archive for the ‘catatan terlewat pasca sarjana’ Category

Mana Pohonnya?

Merdeka!

Mungkin itu kata yang paling sering disebut hari ini. Tapi apa makna merdeka? Mengapa kita harus merdeka? Malaysia, Australia menjadi persemakmuran Inggris, maju. Singgapura, Hongkong disewa Inggris, berkembang pesat. Thailand, tidak pernah dijajah, biasa aja. Lalu mengapa Indonesia tidak dijajah saja, mengapa harus merdeka? Mungkin penjajahnya saja yang diganti, bukan Belanda yang rakus, tapi Inggris (he..he..). Jadi seperti apa ya wajah Indonesia saat ini?

Munculnya kemerdekaan. Merdeka lalu bangkit atau bangkit lalu merdeka? Pohon merdeka berbuah bangkit, atau pohon bangkit berbuah merdeka? Silahkan menimbang. Mungkin kalian punya jawaban.

Karena Indonesia, punya kalian.

170808

Vokal ‘e’

“Menyatakan kemerdekaan Indonesia”

Bagaimana kalimat tersebut diucapkan pada masa awal kemerdekaan. Pasti bunyinya seperti ini: ‘Menyataken kemerdekaen Endonesia’. Apakah ini karena kentalnya darah Melayu sehingga vokal ‘an’ menjadi ‘en’? Atau saat itu Soeharto menjadi pencetus bahasa gaul yang sampai sekarang masih diikuti petinggi-petinggi negara, ‘kan’ menjadi ‘ken’. Selamat tu buat Soeharto yang telah menciptakan bahasa gaul pada masanya.

Lalu sekarang, apa alasan menyebut Indonesia (dengan lafal sesungguhnya seperti mengucapkan Indomie) lebih sering sebagai Endonesia. Yang satu ini efek apalagi? Efek lidah Jawa, yang sering menambahkan huruf e di akhir kata? Tentu bukan. Dan tidak ada pihak yang mengoreksi kebiasaan ini. Bahkan sering dijumpai Endonesia pada lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan saat upacara-upacara. Katanya lagu kebangsaan, kq nyebutnya aja salah?

Rhe jadi pengen jadi huruf e (untung mana Rhe sudah tercipta dengan huruf e, nggak seperti Dewi yang dipaksa menjadi Dewe’, Wewe’ yang punya pantat keloid ;p). Lihat saja urutannya: a, i, u, e, o. E tidak berada di depan bukan. Tapi mengapa justru e yang lebih sering disebut menggantikan vokal-vokal di depannya (a atau i). Kalo memang masalah lidah, susah ngubahnya.

Oleh karena itu (cie… bahasa baku), janganlah kita melanjutkannya. Bukan saatnya jadi penerus. Kita, bukanlah generasi penerus bangsa Indonesia (sudah bobrok kq diterusin). Saatnya menjadi pembaharu bangsa. Selamat berjuang generasi pembaharu, untuk Indonesia.

160808

Taukah kamu?

Reflek tangan kiri lebih cepat

Ini didasarkan pada penelitian ilmiah bahwa tangan kiri dikendalikan oleh otak kanan yang kaya akan intuisinya. Dengan berbekal intuisi tersebut, kecepatan tangan kidal lebih cepat. Namun untuk akurasinya masih perlu dipertanyakan lagi.

150808

Toxic Guling

Pilihan terakhir media komunikasi untuk membagi berita adalah SMS. Hal ini berlaku untuk: 1.) penyampai berita yang buruk, 2.) penerima berita yang buruk. Jika kamu termasuk salah satu atau kedua kriteria tersebut, maka jangan sekali-sekali ber-SMS untuk memberi berita.

Osn : Rhe, aq skrg d dket rmhmu, hbs makan.

Rhe : terus?

Osn : Ni slesai makan

Rhe : kmu sls makan atw km d dkt rmhq?

Osn : Dah sls kq, makan kambing guling

Rhe : d dket rmhq da kambing guling?

Osn : Iya, msh d dket rmhmu

Rhe : mang da warung kambing guling d dket rmhq? sate Djono kli?

Osn : G d wrg, tp d studio tato. Toxic tattoo, tau?

Rhe : studio tato jual kambing guling?

Osn : G lah! Makannya aja d toxic tattoo

Rhe : trus yg dket rmhq toxic tattoo or kambing guling?

SMS pun berakhir dengan tatap muka membahas si kambing guling di toxic tattoo. Pemahaman Rhe: kambing guling berlokasi di dekat rumah Rhe. Toxic tattoo = workshop tato = jalan Parangtritis. Bagaimana 1 orang berada di 2 tempat yang berjauhan dalam waktu yang sama?

Fakta: Osn dkk beli kambing guling (ntah dimana), membawanya ke toxic tattoo buat dimakan rame-rame. Toxic tattoo ≠ workshop tato. Toxic tattoo = deket rumah Rhe. Mereka makan kambing guling di toxic tattoo di deket rumah Rhe (trus ngapa ya mereka harus pindah dari workshop tato ke toxic tattoo hanya untuk makan kambing guling yang tidak dijual di toxic tattoo?).

Akhirnya Rhe berputar-putar pada penjelasan dan pertanyaan yang tak ada habisnya. Benar jika tertiulis: kebenaran selalu tidak sederhana. Buktinya untuk memahami toxic tattoo nggak jual kambing guling aja perlu penjelasan panjang lebar (apa lagi lewat SMS). Jadi jangan pernah gunakan SMS untuk memberi penjelasan berita kepada orang jika kamu termasuk kriteria di atas. Kecuali…

Kamu memang tidak pernah sayang kepada pulsa kamu.

14 Agst 2008

Sandal, Dilarang Masuk

BRS online. Disediakan waktu 2 hari. Hari pertama angkatan 2005-2007 (secara 2008 masih paket). Hari kedua 1998-2004. Gila angkatan ’98! Kalo ini nggak sekedar tua tapi dah memfosil. Gimana nggak, kalo maksimal kuliah 7 taon (2008-7=2001)? Angkatan ’98 adalah angkatan yang benar-benar lewat ED (exp. date) kalo memang mereka masih beredar di pasaran (lho…).

Setelah Buka (ibu kaprodi) ngomel karena ada anak yang masih ngambil mata kuliah yang akan diganti jadwalnya (setelah ditelusur, ternyata 1 orang itu adalah anak yang diisikan sendiri oleh Buka), giliran sandal yang jadi masalah. ’Mahasiswa peserta BRS online wajib menggunakan baju berkerah dan bersepatu.’ Peraturan ini dipegang teguh oleh panitia.

Kaos bisa disamarkan dengan jaket berkerah. Kalo sandal kan nggak bisa disamarkan dengan kaos kaki bersepatu (model apa pula ini?). Maka terjadilah teriak meneriak memanggil sepatu dan mengusir sandal. Ili yang kreatif segera membuka persewaan sepatu dengan ongkos 1 bungkus Cak Rano sekali masuk.

”Hei, sandal kamu! Kq bisa masuk? Keluar, ganti sepatu!” Ayu menunjuk sandal sambil memasang muka seram.

Sandal terhuyung-huyung keluar memanggil sepatu.

”Sepatu, aku ditolak masuk kedalam. Hanya kamu yang diijinkan masuk. Tolong gantikan aku.”

Sepatu berjalan congkak, masuk BRS online. Keluar dengan penuh kemenangan.

”Sandal, jadilah sepertiku supaya bisa diterima masuk kedalam. Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

Sepatu dan sandal bertukar tempat. Berganti-ganti dari sandal pertama sampai sandal keenam. Sepatu congkak karena bisa menggantikan mereka semua. Tiba saatnya di sandal ketujuh. Setelah selesai BRS online, sepatu terhuyung–huyung mencari sandal.

“Sudah kuselesaikan urusanmu. Sekarang kembalilah kemajikanmu.”

“Tidak mau.”

“Mengapa?”

“Bukankah kau bangga jadi sepatu karena bisa diterima di semua tempat?”

“Iya. Tapi majikkan ini terlalu besar. Aku tak mampu menahannya. Lalu?”

”Begitulah. Aku tak ingin jadi sepatu sepertimu. Aku hanya ingin menjadi pas dengan majikanku. Kaki.”

Sepatu sadar, sandal adalah suatu yang pas untuk sang majikkan, tak perlu ia gantikan. Jadi mengapa sandal selalu dianaktirikan, dilarang masuk. Mulai sekarang:

Sandal, silahkan tunggu di luar.

13 Agst 2008

Senyum di Pagi Hari

Pagi adalah awal hidup hari ini. Awali pagi dengan senyum, bukan masalah apalagi marah-marah. Karena senyum di pagi hari akan membuat hidup indah hari ini (pesan ayah, ntah sejak kapan).

Berbekal ucapan inilah kami selalu berusaha membuat pagi yang indah tanpa masalah dan marah-marah. Orang paling konsekuen adalah ayah, yang paling sering mengalah untuk menghindari omelan pagi hari. Demi senyum di wajah setiap orang saat meninggalkan rumah. Senyum di pagi hari.

Osn 06:24

Met pagi

Rhe 06:28

Met pagi…

Osn 06:31

Ya, tp nulisnya g usah pake cemberut gitu donk…

Rhe 06:36

kePDan! Mang liat aq cemberut? Ni baru ngakak” ma babi ngesot. G tw kan km?

Osn 06:41

Tp tu tampangmu kusut abis. Apa krn bangun tidur ya?

Rhe 06:45

Dah, berangkat kerja sana! Jamq dah 06:46. Hrs smp jam 7 kan?

Osn 06:46

Hehe… Smile please… Nah, ya dah c u…

Percakapan nggak penting di pagi hari (pemalas banget ya, jam segitu baru bangun?). Ntah kenapa terasa beda aja. Sapaan pagi sederhana. Bukan nuntut apa-apa, hanya senyum. Senyum di pagi hari.

Makasih dah buat Rhe tersenyum pagi ini. Ayah, ada orang yang mengikuti jejakmu. Love U.

12 Agst 2008

Kesempatan Kedua

Harapan telah merintis jalan pada sinar pagi yang cerah.

Sebuah kalimat yang menguatkan Rhe manyambut hari ini (walo cuaca nggak sepenuhnya cerah, cenderung mendung, terpaksa menahan air di ketinggian). Siap-siap ke kampus untuk memenangkan ego. Lanjut studi (belajar kq nggak bosen-bosen ya?). Masih seneng jadi mahasisawa, terima gaji buta tanpa kerja. Dan khayalan indah Rhe dikacaukan dangan pesan singkat dalam layar.

From: Wewe’

06:40

Rhe, aq g ngerti apa yg km putusin bwt dia, aq tw brat bwt km, tpi kl bs coba bri dia ksempatn. Klo da ksmptn dia bakal buktiin diri. Kmrn km g dngerin pjelasn dia kan?

Hari mendadak mendung (padahal dari awal memang dah mendung). Kesempatan? Perlu diberi berapa kali pun, untuk orang dengan tingkat nggak peka level tinggi, nggak akan paham. Memang pengorbanannya nggak seberapa, tapi pasrahnya luar biasa. Pasrah dibentak-bentak, pasrah disuruh-suruh, pasrah dimaki-maki (makhluk bernama Rhe bermutasi jadi monster betina dihadapannya). Di saat lain bisa jadi pendengar yang baik, penghibur yang baik, merasionalkan jalan-jalan buntu (dalam kondisi ini Rhe menyusut jadi makhluk rapuh).

Mencoba memperbaiki sesuatu hanya menjadikannya lebih buruk.

Tulisan itu tiba-tiba tampak jelas di salah satu halaman buku bercover coklat. Pertanda alam. Tak perlu lagi bahas kesempatan kedua. Cukup belajar dari masa lalu, itu aja. Yang lalu biarlah menjadi sejarah, melangkahlah untuk masa depan.

Rhe pun meninggalkan buku itu dan melupakan kejadian pagi ini. Ngeloyor masuk kantor mencari Dekan.

”Rhe tangal 13,14 da acara nggak? Pengangguran kan?” Pertanyaan Lyd yang nonjok. Memang sudah dinyatakan lulus, tapi kan belum yudisium. Masih bisa ngaku sebagai mahasiswakan? Kq dah dibilang pengangguran?

“Nggak, kenapa?”

“Bantu jaga BRS online ya?”

“OK!”

Kemarin nggak diterima jaga ujian karena telat daftar. Sekarang tanpa daftar malah ditawarin. Apa ini yang namanya kesempatan kedua? Kalo Rhe aja dikasih, kenapa Rhe nggak bisa ngasih buat orang lain?

Tiap upaya untuk tidak berbuat apapun, supaya tak ada yang bisa keliru, akan keliru.

11 Agst 2008