Archive for the ‘rhe.midi’ Category

just for today! (#2)

kaji 24.06.2010

setelah 1 dokumen diterima dan 1 dokumen ditolak. kembali dengan keping -keping kemenangan dan kekalahan. di pojokan bersama manru yang tetap memamerkan taring na. menghubungi semua yang bisa dihubungi, dari temen lama ga pernah disapa sampai teman akrab selengket-lengket na.

‘huallow… apakah ada yang berdonisili di solo saat ini?’

begitulah kira-kira sapaan awal na dengan tujuan… tak lain dan tak bukan adalah menemukan tempat tumpangan sementara di solo. dan sebagian besar ternyata tidak ada yang tinggal dan mempunyai teman di solo. pufh… ternyata kota kecil itu bukanlah kota populer sehingga banyak yang tinggal atau sekedar mangkal di sana. -mulai mencari cari kesalahan-

seharian dengan sms dan chat dan tidak menemukan jalan keluar. tiba-tiba seorang teman berujar:

‘kenapa ga naik dari tanah abang aja. kelihatan na berangkat na juga ga mepet ma jam pulang kantor. tapi ga tau lebih lengkap na.’

berbekal keterangan teman, rhe segera mencari di internet tentang jadwal kereta jakarta-solo via tanah abang. dan ternyata… keterangan tidak didapat karena situs dalam perbaikan. mengesalkan 😦

akhir na ngubek-ubek nomor telepon layanan. menenukan nomor stasiun tanah abang dan gambir. namun, kembali mengecewakan lagi ketika layanan-layanan umum ini tidak bisa dihubungi. tanah abang ga ada respon sementara gambir sok sibuk. apa-apain ini?!?!? mereka dibayar buat pelayanan publik tapi yang mereka lakukan adalah pembunuhan publik.

didera resah yang tak berkesudahan, niat berganti kereta dari tanah abang pun tak kesampaian. selain karena tak tahu jadwal gara-gara web yang tidak bisa diakses, juga kurang na informasi karena contact yang ada ga bisa dihubungin. lalu.. kepada siapakah rhe harus bertanya?

dan akhir na… pasrah sudah dengan tiket yang ada di tangan. solo…. rhe datang. tanpa teman, tanpa tumpangan dan rhe siap bermalam. di stasiun. -***-

Iklan

just for today! (#1)

pasar senen 24.06.2010

setelah melakukan perjalanan ke salemba, melalui senen tapi driver na ga mau mampir. ya sudah… melengganglah senen, ke salemba. naik angkot 2 kali, 04 dan 01 dan sampailah di garasi bus  alias terminal, senen. berbecek-becek bentar ke arah timur dan gerbang utara stasiun senen pun menyambut.

puas dengan ujung celana yang belepotan jalan sehabis hujan, siap ngantri di pemesanan tiket. isi formulir dan dengan tekat baja, otot kawat dan berbekal tampang calo… majulah rhe ke meja pemesanan (tampang orang yang yakin menang).

“bu, senja utama jogja 1 buat sabtu”

“tiket habis”

jawaban singkat yang ga sesuai harapan yang langsung meluluhkan mental. bergegas ke pojokan. membangun mental kembali dari puing-puing yang ada. mencari formulir kembali. ok lah banting stir kalau memang ga ada kereta bisnis (berhubung belon mampu beli tiket eksekutip, masih golongan mayoritas)…

“bu,progo 1 buat sabtu”

“sampai 26 tiket habis”

“nah, inikan baru kamis, masa sudah habis? bukan na pemesanan 2 hari sebelum na?”

“pengumuman na dilihat! selama liburan pemesanan 7 hari sebelum na. untuk 27 masih ada kq kalau mau”

“ga mau”

dengan gaya jual mahal (tapi tampang kalah perang) ama petugas loket berharap petugas loket mo nurunin harga trus memanggil rhe kembali (mang na tawar-tawaran barang), melangkah meninggalkan antrian. remuk redam. bagaimana ini, ga dapet tiket ke jogja, tapi ke jogja na ga boleh diundur apalagi batal. ga bisa!

kembali ke pojokan (yang sudah menjadi basecamp dadakan) mencari ide penyelamatan perjalanan. letakkan jogja di kepala, tarik semua energi positif yang ada dari sekitar, berpikir jernih dan gunakan nalar. jadilah…. solo, tiba-tiba kota itu melintas di kepala menggantikan jogja. yups… klo ke solo kan lewat jogja. dengan tenaga yang masih tersisa, mencari di antara orang yang mulai memenuhi ruangan 5 x 5 meter (mungkin, masih sempet ngitung di sela-sela mental drop) yang hanya dilayani 3 petugas. lembar formulir pemesanan…

berjalan ke loket dengan perasaan tersayat, penampilan terkoyak, dan harapan sekarat…

“bu, senja utama solo 1 buat sabtu”

“wah, kalo buat tanggal 26 dah habis”

“ini senja utama ke solo bu, bukan jogja”

“iya, sudah habis. ga percaya ma petugas na?”

panikkkkkk…… bukan lagi luluh apalagi remuk, ni sudah stadium 4, menunggu ajal batal ke jogja. kepala mentok, ga ada inspirasi terlintas. segala daya dan upaya, ide dan kreativitas sudah dikerahkan untuk pencariin tiket ke jogja. demi selembar tiket saja… apakah perusahaan kertas tak lagi mampu memproduksi na? apakah tinta printer penjaga loket hanya tersedia sampai tiket terakhir? apakah mendadak orang-orang bedol kota pindah ke desa? skeptivitas orang panik (ada ya?).

akhir na tanpa rencana apapun kembali ke loket ekonomi.

“solo bu, buat sabtu”

“berapa?”

“hah?” (terkesima…)

“berapa?”

“satu bu, satu yang deket jendela”

“37.000”

nyodorin duit dengan sambil mengucap syukur. puji tuhan akhir na dapet tiket juga. akhir na pulang jogja juga (tampang berbinar). akhir na pulih dari stadium 4. akhir na…..

menerima kembalian dengan lega dan melenggang keluar. melalui pintu dan berhenti di depan papan rute dan jadwal kereta. mengatur bawaan, barang dan mental sambil menarik nafas. tak lupa mulut komat kamit mengucap syukur atas selembar tiket yang rhe pegang, lembaran pink untuk mengesahkan mereka yang ingin memasuki kota-kotak besi…

mengatur sambil memandang. info tentang kereta yang nanti na akan rhe naiki cz memang rhe belum pernah naik kereta jakarta-solo. n.. wha’s the hell? puk (pengen mengumpat tapi inget ini tempat umum). this train does’t through jogja. pengen loncat-loncat, loncat-loncat.

setelah ga dapet tiket ke jogja, setelah ditolak 3 kali petugas loket, setelah hampir tidak ada harapan lagi, setelah diguyur kepastian semu, semua na terenggut begitu saja mengetahui rhe punya tiket kereta tapi ga lewat jogja. kereta matarmaja ke solo lewat jalur utara, bukan selatan. jam tiba di solo 23.55. okay… sekarang apa yang harus dilakukan? dini hari di solo.

lewat dulu karena harus kembali ke salemba. melaju dengan 01A dan 04. langsung menghadapi evaluator, petugas pemeriksa yang ga berhenti bertanya dan menyelidik selama 2,5 jam. menghilangkan sementara kepanikan akan salah kereta dan terjebak di solo dini hari. sebelum kekhawatiran itu kembali dan memaksa rhe menemukan jalan keluar na…

to be continue.. -***-

euforia mudik (part 3)

sekali lagi tentang kereta dan perjalanan…

bagi mereka-mereka yang merasa sebagai perantau, libur panjang bukan berlabel liburan tapi… mudik. ya, saat orang-orang daerah (non perantau) liburan, perantau-perantau ini melakukan siklus ‘hampir’ tahunan, mudik. berpindah dari tempat perantauan ke kampung halaman. dan kembali melakukan perjalanan… dari kampung halaman ke perantauan. migrasi yang dilakukan secara serempak oleh perantau.

begitu juga kali ini, setelah liburan selesai.. para pemudik ini kembali melakukan migrasi ke tempat perantauan. dari yang dikatakan desa ke yang dikatakan kota. perjalanan kali ini rhe tempuh dengan ‘lagi-lagi’ kereta api. sedikit turun tingkat karena kelas yang dipilih adalah kelas ekonomi, dengan tiket dan tetap lesehan. ternyata level kelas juga mempengaruhi sikap orang.

penumpang kelas bisnis eksekutif merasa nyaman dengan posisi mereka sehingga tidak melakukan tindakan-tindakan merugikan untuk mempertahankan posisi mereka. sedangkan kelas ekonomi, di mana posisi diperoleh melalui usaha keras, mereka dengan semena-mena melakukan upaya untuk mempertahankan posisi ‘aman dan nyaman’ mereka.

sedikit kecewa ketika rhe lihat, praktik-praktik seperti itu. tapi… pilihan terbanyak yang menang (padahal kata na negeri demokrasi). dari stasiun awal, penumpang sudah berjubel, termasuk rhe salah satu korban orang yang kurang keras berusaha. terbukti.. harus kembali, lesehan. di sinilah mereka mulai mencari posisi ‘untuk dapat lesehan’ nyaman, bahkan pemandangan wajar ketika kamar mandi merupakan pilihan ketika space kosong tidak dimungkinkan lagi. pemilihan tempat ini jelas menyiksa orang 1 gerbong terutama mereka yang ingin ke belakang cz mereka tidak bisa menggunakan fasilitas toilet dan harus menahan panggilan alam sepanjang perjalanan.

hal lain adalah mengunci pintu gerbong karena orang-orang memanfaatkan ruang di lorong antar gerbong dan merasa nyaman dengan sepetak tempat itu. egoisme ini sangat mengganggu pemegang tiket di stasiun-stasiun berikut na. penumpang dari stasiun-stasiun berikut na tidak diberikan kesempatan untuk masuk kereta, terpaksa mengedor-gedor pintu gerbong demi kesempatan masuk kereta. padahal mereka sebenar na juga memiliki kesempatan yang sama seperti pengunci-pengnunci pintu ini karena mereka juga pemilik-pemilik tiket kereta yang notabene berhak memanfaatkan fasilitas kereta. tapi… kembali lagi, kepentingan individu dibenturkan dengan kepentingan individu  lain sehingga mereka saling mempertahankan kepentingan masing-masing agar kepentingan mereka tidak tergeser. itulah contoh na. mereka tidak memberi kesempatan kepada pemilik kesempatan yang sama seperti mereka.

tempat aja mereka dapat dengan perjuangan, ngapain dikasih ke orang lain. or.. tanpa kau pun aku dapet tempat sempit, apalagi dengan ada na kalian. mungkin itulah yang ada di pikiran mereka. wow! dan… kembali kepentingan orang lain yang dikorbankan.

itu baru yang dari luar mau ke dalam kereta… di dalam gerbong, juga perlu perjuangan. dari mempertahankan kependudukan dari gangguan penghuni lain dan pengamen, penjual or makluk-makluk lain yang berusaha bertahan hidup di kereta. kehidupan di dalam transportasi indonesiawi. penuh dengan mempertahankan hidup dan wilayah nyaman. -***-

euforia mudik (part 2)

masih di hari yang sama, jam ma menit yg berbeda

rhe si tenaga uap berusaha menyamakan langkah pindang-pindang yang baru keluar dari oven ‘n mendadak dapet tenaga mono rel. whuzzzz.. kencang sekali mereka. dengan sedikit terseok-seok ‘n ga memaksakan diri, rhe tetap menjadi si mesin uap. jalan pelan-pelan. ga mau kehabisan energi sebelum pertempuran di medan sebenar na (jadi bingung.. ni mau ke medan pa jogja ya?).

sampai di loket mo beli tiket,18.52

ngantri. sampai tiba-tiba antrian bubar ‘n calo berdatangan. apa ini maksud na… tiket habis trus loket tutup. calo mulai melancarkan aksi mereka, merayu, menakuti-nakutin dan semua tipu muslihat yang bisa mereka gunakan untuk membuat pemudik-pemudik yang ga tau medan dan trik perkeretaapian termakan bujukan biar membeli tiket dari mereka, dengan harga yang udah dilipat-lipat tentu na. dinaikan berkali-kali mpe ga masuk akal. wew… inilah praktik kepentingan, kebutuhan dan kejahatan. kong kali kong, jadi na king. king kong..

keteracakkan pikiran sesaat…. zink…. suing…. krik,krik.. krik,krik… masa ga jadi pulang jogja hanya karena tiket dimainin ma calo? berhentilah rhe sebentar, nafas + istirahat + mikir. setelah berlarian dari loket selatan ke loket utara ke loket selatan trus ke pintu masuk. bingung. diam…

dan tiba-tiba.. papan petunjuk itu menjadi sangat terang.. ‘informasi’. yup, kenapa ga tanya di bagian informasi aja… ok, rhe ke sana. langsung masuk ke arah yang ditunjuk si papan, walo tertutup ma tanaman-tanaman. dan… ops, ini bukan pintu. ternyata iklan pembersih kaca yang ‘bagai tanpa kaca’ itu benar-benar ada. sungguh, untung ga pake bunyi ‘ting’ waktu ngenabrak na. ternyata pintu masuk na searah gerai ATM, bukan searah papan petunjuk. baiklah…

di ruangan yang dihuni 1 makhluk berseragam hitam dan kumisan itu, ternyata ada 1 gadis juga yang bernasib serupa. beda na dia datang terlalu cepat untuk membeli tiket naek kereta, sedangkan rhe.. terlambat. si gadis merasa ‘kereta saya harus na sudah berangkat ni, ‘n kenapa saya harus terkurung di ruangan ini?!’ sejak kapan dia berhasil membeli kereta??? sudahlah.. kita tinggalkan si gadis.

rhe menghampiri makhluk berseragam dan bertanya (dengan baik-baik ya.. dan pasang tampang polos):

‘pa’ loket yang jual tiket progo kq tutup ya? kan masih jam 7, belon jam 9.’

‘tiket dah habis neng, kapasitas penumpang dah lebih dari 1800. pembelian tiket sudah tidak dilayani lagi.’

‘tapi calo di luar kq masih bisa jualan tiket ya pa’? pa ga semakin melebihi kapasitas itu pa’?’

‘aduh neng, kaya ga tau kalo liburan aja. semua orang pasti berebut tiket kereta murah.’

‘padahal rhe pengen ke jogja hari ini lho pa’.’

‘kalo emang pengen kenapa ga dari tadi pagi belinya?’

‘ga ada yang disuruh beliin pa’.’

‘beneran mau pulang, ya udah beli tiket senja utama aja’

‘kalo yang senja utama masih ada pa’?’

‘masih’

‘tapi kan ini dah pukul 19.35. bukan na senja utama berangtaj pukul 19.20? apa rhe ga ketinggalan kereta kalo beli tiket dulu?’

‘mau beli lewat saya? 130 aja kq.’

‘ga pa’ makasih.’

dan rhe pun langsung kabur meninggalkan si petugas gagal menjual tiket na. mencari uang 1500 dengan terburu-buru. mengumpulkan na bersama 2 kawan yang lain, total jadi 4500. ntah… mereka tau atau tidak apa yang rhe jelaskan seketika ‘n secepat itu. bahwa kita tetep bisa pulang, kita pulang naek kereta, kereta bisnis bukan ekonomi, berangkat saat ini bukan 2 jam lagi. tanpa tiket.

kesimpulan sementara rhe… mereka ga ngedong cz mereka dengan senang hati (ni kesimpulan rhe secara mereka tidak memprotes sama sekali) mengikuti rhe. masuk ke peron, langsung ke peron 3. untung kereta na baru aja masuk. cari gerbong restorasi, siapkan koran dan… bertampanglah preman sambil menyebut salah satu agen perjalanan berinisial ‘y’. setelah ditolak 2x, sampai dipemberhentian ketiga.. tampang curiga langsung menyapu rhe dari atas sampai bawah. merasa menghapus semua debu + kotoran + keringat selama ini. oh… nikmat na mandi. lho…

‘cari sapa?’

‘y’

‘siapa?’

‘ni adek na a…. yang dines di k…. t……..’

‘sering ikut sapa?

‘ikut pa’a…’

dan akir na si mba’ memberikan tempat kepada rombongan rhe, 3 cewe’ yang belon pernah merasakan manfaat dari mafia kereta api. ops… ga sampai setengah jam yang lalu rhe marah-marah ma pihak k. cz bekerjasama melakukan praktik percaloan, sekarang rhe merasa bersyukur mafia-mafia kereta ini punya link orang dalam. jadi… cukup dengan 50… (dibaca 50 plus-plus, plus keinjek, plus ketendang, plus mendadak jadi keset ‘n plus-plus yang lain) rhe bisa melaju ke jogja. bebas pemeriksaan tiket ‘n aman dari pengusiran, diusir turun dari kereta waktu di cirebon. or lebih parah lagi, kena palak petugas yang justru lebih tinggi nilai na daripada sedikit memberi ucapan terima kasih kepada pa’a… yang nilai na cuma 1/2 or 1/3 tarikan petugas. ancaman na adalah… turun dari kereta.

thx pa’a… ma mas y… rhe bisa mpe jogja di hari yang direncanakan, lebih mahal emang. tapi juga lebih cepat. subuh-subuh. dari tugu langsung naek kereta warna ungu. lucu. ternyata pramex ada yang warna warni, kata adek rhe… yang warna ungu tu yang kwalitas paling bagus. n dari tugu ke lempuyangan bebas biaya. lagi-lagi praktik tanpa tiket. sayang, belon sempet naek, rhe dah dijemput.. jog-jakarta pagi hari. uh… sepi.

so… jangan cuma memandang dari 1 kacamata, klo lensa sebelah beda ukuran na. dengan kacamata yang lebih tepat, kita jadi bisa lebih bijak. wkwk… semua da yg nyebelin tapi tetep ada manfaat na juga kq…

jogja, rhe’s coming…..

😀 -***-

euforia mudik (part 1)

jakarta, 23 des 2009

halte harmoni penuh sesak. memang biasa seperti itu kalo jam pulang kantor, ditambah lagi dengan liburan panjang, natal. mayoritas pengguna transjakarta saat itu (18.00) adalah pemudik-pemudik yang hendak singgah di pasar senen. ada sih stasiun yang lebih deket, gambir, tapi yang satu ini khusus KA eksekutif, jadi pengunjung na juga ekslusif.

setelah jibaku ma penjual tiket trans yang agak sewot (maklum, kami juga sewot cz belon punya tiket pulang ‘n ni dah kurang dr 3 jam sebelum keberangkatan), kami pun masih harus berjibaku bersama rekan-rekan ikan pindang yang sama-sama menunggu untuk masuk ke penggorengan. beda na.. kali ini kami berebut masuk ke penggorengan, secara sadar.

di tengah keegoisan desak mendesak antar pindang, 1 teman kami berhasil lolos dan melaju ke depan. bukan untuk masuk ke penggorengan tentu na cz dah limit batas. tapi aneh na penjaga pintu masih memperbolehkan 1 kakak kami ini masuk. n dengan polos na dia bilang…

‘teman-teman saya ketinggalan di belakang’

‘berapa temen na’

‘2’

hurai… untung lah dia masih mengingat pindang-pindang ini sebelum masuk ke penggorengan. padahal waktu itu da bapak sadis yang nimpuk kepala hanya untuk merebut antrian. what’s?! sakit tau..

‘n dengan password yang tepat tadi, kakak kami mendadak menjadi kakak tercinta’n ibu pindang-pindang dengan tindakan hero na.. berhasil membuat penjaga memberikan jalan lapang buat 2 pindang yang masih ketinggalan di bekalang. serasa mendapat karpet merah.. kami pun melenggang menuju pintu penggorengan, menjadi pindang yang sepindang-pindang na. sambil melenggang manis, plus say good bye plus bilang.. ‘sorry pak, kami duluan’ (diakhiri dengan menjulurka lidah 😛 ) ke bapak yang nimpuk kepala dengan kemenangan 200%.

100% cz kami berhasil keluar duluan, 100% cz kami keluar dengan jalan yang sangat sangat lapang, tanpa halangan. dan kami pun menjadi 100% pidang di dalam bus (yang serasa oven ternyata bukan penggorengan) dengan kapasitas berlebih yang semakin berlebih dengan diisi 3 ekor pindang lagi. jangankan bergerak, untuk menutup pintu aja susah, untung tidak ada yang sampai dikorbankan (pindang penyet ;)).

dan akir na kami pun melaju ke pasar senen. kotak besi… here we comes!!! -***-

impian atau komoditi?

Minggu, 13 desember 2009

Salah satu stasiun tv swasta (yang kita tau siapa) mengadakan acara pencarian bakat, anak. Tak beda dengan ajang-ajang lain. Bukan hanya satu stasiun ini aja, yang lain pun juga. Ketika cinta tak lagi suatu yang sakral, cinta instan untuk komoditi orang-orang yang mencari hiburan. Suatu kemenangan akan ketenaran dan hadiah.

Sesuatu yang kata na penting pun tak lagi memiliki kesakralan na dengan hanya mencari komoditi hiburan kaum-kaum yang tidak terhibur. Maka…

Kini bukan sesuatu yang mengherankan ketika impian pun bukan sesuatu yang perlu diraih dan diperjuangkan. Lagi-lagi… komoditi si pemiliki modal untuk mengembangkan modal na. Dengan alasan.. mengejar impian. Siapa sih yang ga mau jadi terkenal??? Suatu stereotipe impian sukses yang dibentuk pemilik modal demi keuntungan mereka sebenar na.

Lalu… melihat adik-adik kecil kita, yang bermain riang di pantai, memainkan layang-layang di tengah sawah, bercanda dengan teman-teman, berbasah-basahan di sungai…

Impian sederhana mereka yang sebenar na… bermain dan menghabiskan masa kecil mereka yang menyenangkan… ntah ngapa dibentuk untuk suatu kemenangan akan kontes, yang ntah atas keinginan sendiri atau keinginan para dewasa, orang tua, sebenar na.

Melihat adik-adik kita dipoles dan dibentuk demi komoditi hiburan…

Jadi, benarkan ini impian, suatu kemenangan? Atau komoditi penjual hiburan kepada para pencari hiburan??

Seperti cinta instan yang dikonteskan. -***-

penipu yang tertipu

minggu sore sehabis ujan…

koko-koko (bukan bermaksud rasis tapi memang demikian) di glodok menyebalkan. jembatan glodok city…

awal na tampak baik, suka menolong dan gemar menabung.. (lho.. kriteria apa ni?) tapi… setelah barang na ga jadi dibeli, ngamuk d dia. padahal pembeli kan adalah raja. tapi dia tetep ngamuk-ngamuk gitu, sambil bawa bilah besi panjang ntah siap buat apa…

rhe dengan membawa dupa siap mengusir roh jahat yang merasuki tu koko-koko dan tetap tidak membeli barang dia. tapi… klo rhe ga beli, 2 ekor temen rhe ga bisa beli ‘n bakal kena ajian belai maut dia.

akhir na setelah nego (yang ternyata ga berhasil), kami membeli tu mp3 yang seharga mp4.

dan koko-koko itu tersenyun riang menganggap kami anak-anak sekolah yang aneh. perlu digarisbawahi bahwa kami semua sudah kuliah.

wah, penipu yang kena tipu ‘n kalo boleh bilang tu koko bernama anen..

ntah apa nama toko na.. legal ga legal pun kami tak tau. hati-hatilah membeli barang disana. murah juga ga jauh beda ma toko umum na, tapi ga da garensi na. baik garansi untuk barang maupun garansi perasaan.

jesu.. jangan kau menyebalkan seperti tu koko yang menjualmu. -***-